Adzan itu istimewa sejak mula pertama dikumandangkan Bilal bin Rabah ra. sampai hari ini. Kumandangnya menggema dan dijawab tiap kali disuarakan para muadzin. Kini para Bilal tak terhitung lagi jumlahnya di seantero dunia.

Setia mengumandangkan panggilan itu untuk menuju Allah tiap kali waktu shalat tiba.

Di bulan Ramadhan, adzan bahkan dirindukan. Detik per detik ia dinanti. Saat matahari tenggelam lalu adzan berkumandang, penantian itu lalu berakhir bahagia. Tentu bagi yang berpuasa. Farhatun ‘indal ifthaar (bahagia saat berbuka) seperti diperebutkan walau hanya dengan seteguk air putih.

Bukan sebatas itu adzan dipandang istimewa. Sebab ternyata, adzan menggema 24 jam non stop memenuhi semua ruang di planet bumi hingga ke cakrawala.Mari kita telisik dari adzan Shubuh di negeri kita.

Pertama kali, adzan shubuh berkumandang di Indonesia timur. Pada pukul 04.30 setiap pagi, adzan Shubuh sudah terdengar di Sulawesi. Ada selisih waktu sekitar 1,5 jam antara Indonesia timur dan Jawa. Adzan sambung menyambung pada selisih waktu ini. Nah, belum selesai adzan menggema di kedua wilayah ini, adzan mulai berkumandang di Sumatera.

Adzan Shubuh terus bergerak bagai air mengalir mencari celah di atas bumi. Sebelum kumandangnya berakhir di Indonesia, ia mulai mengangkasa di wilayah Malaysia, terus bergerak ke Myanmar lalu ke China. 1 jam setelah adzan Shubuh berkumandang di Jakarta, adzan telah pula berkumandang di Dhaka, Bangladesh dan bersahutan hingga ke bagian barat India. Terus bergerak ke wilayah Mumbai dan Kashmir. Seluruh Bandar di bagian utara Pakistan adzan juga mulai menggema.

Srinagar dan Sialkot, sebuah kota di bagian utara Pakistan memiliki waktu adzan yang sama. Perbedaan waktu antara Sialkot, Quetta dan Karachi adalah 40 menit dan dalam periode waktu tersebut adzan Subuh terdengar di seluruh Pakistan. Sebelum selesai di Pakistan, ia mulai berkumandang di Afganistan dan Muscat, Oman.

Perbedaan waktu antara Muscat dan Baghdad, Irak adalah 1 jam. Di waktu itu, adzan Shubuh sudah berkumandang di Hijaaz, dua kota suci Mekkah dan Madinah, kemudian Yaman, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan berakhir di Irak. Perbedaan waktu antara Bagdad, Tripoli dan Alexandria di Mesir adalah 1 jam. Selisih satu jam ini adalah ruang yang diisi oleh kumandang adzan yang bergerak ke Syiria, Mesir, Somalia, sampai Sudan.

Begitu juga selisih 1 jam perbedaan waktu antara barat dan timur Turki dimana kumandang adzan sambung menyambung. Dari sini, proses panggilan adzan Shubuh berlanjut ke seluruh Afrika hingga gemanya berkumandang di Pantai Timur Samudera Atlantik setelah berlalu 9,5 jam.

Sebelum adzan Shubuh mencapai Atlantik, adzan Zhuhur telah dimulai di timur Indonesia. Sebelum adzan Zuhur mencapai Dacca, adzan Ashar telah dimulai. Saat adzan mencapai Jakarta setelah kira-kira 1,5 jam kemudian, maka waktu Maghrib menyusul. Dan tidak lama setelah waktu Maghrib mencapai Sumatera, maka adzan Isya telah dimulai di Sulawesi! Bila Muadzin di Indonesia mengumandangkan adzan Shubuh, maka muadzin di Afrika mengumandangkan adzan Isya.

Mencengangkan. Adzan tak pernah berhenti berkumandang setiap detik. Jika kita ambil sampel adzan Maghrib dan waktu berbuka, maka setiap saat, akan ada orang yang tengah berbuka di belahan bumi di mana ia tinggal. Subhanallaah! (Sumber: http://www.mpuin-jkt.sch.id)


Fitur News