Wayang Suket atau rumput adalah seni pertunjukan multimedia yang merupakan eksplorasi inovatif dari seni pertunjukan yang tradisi (kulit) yang dipadu dengan teater, tari dan musik.

Selain itu, lakon dalam wayang suket juga tidak selalu diceritakan oleh dalang melalui karakter wayang, tapi dimainkan juga oleh personal lainnya dalam bentuk teater dan tari. Dialog bukan Cuma milik dalang, tapi juga terjadi di antara pemain dan dalang.

Rumput, bahan dari karakter wayang suket, mengandung filosofi mengenai kehidupan, karena walaupun hidup di bawah dan kerap diinjak, bahkan dipangkas, tetap dapat bertahan hidup. Tumbuhnya rumput juga selalu diikuti keberadaan unsure alam lain, seperti tanah, air, udara dan matahari. Hal ini juga memberi illustrasi terhadap nasib pertunjukan wayang, ketika sempat menjadi tontonan mewah, untuk kalangan ‘istana’, wayang tetap dinikmati dan dipentaskan masyarakat dipedesaan kebanyakan. Salah satunya adalah dengan membuat wayang dari rumput, seperti wayang suket ini. Banyak pengamat menyebut wayang suket sebagai symbol semangat tradisi yang terus hidup, bahkan di tengah modernitas dengan tetap mencipta kreasi baru tanpa kehilangan orisinalitas.

Tidak heran jika kemudian lakon dalam pertunjukan wayang suket selalu dekat dengan masyarakat, sarat dengan humor- humor cerdas dan padat dengan kandungan renungan filosofis tentang kehidupan.

Salah satu pembuat Wayang Rumput adalah Ki GEPUK yang tinggal di Desa Bantar Barang, Kecamatan Rembang, Purbalingga, Jawa Tengah. Ia mulai membuat Wayang Rumput sewaktu berusia sekitar 23 tahun. Peraga Wayang Rumput yang pertama kali dibuat adalah tokoh Wisanggeni, anak Arjuna dari Dewi Dresanala. (Sumber:nhttp://pdwi.org)


Fitur News