Yang berbeda dari Dusun Kekean dengan dusun lainnya di pesisir Kab. Pangkep, adalah geliat ekonomi penduduknya.

Ekonomi warga Dusun Kekean mulai menggeliat dari sektor budi daya rumput laut dan pembuatan jaring (ikan, udang, dan kepiting). Beberapa masyarakat ekonomi rentan Dusun Kekean bergabung membentuk kelompok usaha budi daya rumput laut “Kalaroang” dan kelompok usaha pembuatan jaring “Siangkalinga Adae”.

Geliat ekonomi ini tidak lepas dari peran seorang perempuan di Dusun Kekean, Syarifah namanya. Ia guru di madrasah sekaligus guru di masyarakat. Sebagai salah satu dari sedikit masyarakat di desanya yang bisa mengecap pendidikan hingga ke perguruan tinggi, Syarifah aktif mendorong masyarakat di desanya dalam melawan keterbatasan. Seperti hal saat Syarifah mengajar di Kelas Paket A, membantu Ibu-ibu tua di desanya yang buta huruf agar bisa menulis dan membaca. Kegelisahannya juga muncul saat melihat janda-janda tua di desanya, yang tidak punya tabungan di masa tua dan yang hanya bergantung pada pemberian anak cucu. Melihat kondisi seperti ini, Syarifah makin tergerak mendorong perempuan rentan di sekitarnya, mendorong agar mereka tidak melulu mengandalkan penghasilan suami, mengajak mereka untuk bekerja dengan memanfaatkan potensi yang ada di sekitar mereka.

Kaum Ibu di Dusun Kekean, sebuah dusun di pesisir Selat Makassar, mengisi waktu dengan membuat jaring. Keahlian membuat jaring ini memang sudah turun dari generasi ke generasi. Dari mengikat jaring inilah, mereka mendapat penghasilan tambahan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Jaring-jaring dikumpulkan, kemudian dijual ke distributor yang akan menjual jaring ke nelayan-nelayan di Papua. Selain membuat jaring, penduduk di Dusun Kekean juga berbudidaya rumput laut. Dengan modal seadanya, mereka sedikit demi sedikit meningkatkan kapasitas produksi rumput laut dari panen ke panen.

Syarifah mengajak perempuan-perempuan dari keluarga miskin untuk bergabung dalam Kelompok Usaha budidaya rumput laut “Kalaroang” dan Kelompok usaha membuat jaring “Siangkalinga Adae”. Dengan adanya kelompok usaha Siangkalinga Adae ini, pemasaran jaring udang menjadi terpusat untuk memenuhi permintaan jaring udang dari nelayan-nelayan di Papua. Dengan adanya bantuan berupa alat-alat membuat jaring, anggota kelompok yang tadinya paling banyak hanya menghasilkan 1-2 set perbulan, kini bisa mencapai 3-4 set setiap bulannya (dengan rincian 15 ikat jaring/ 1 set). Kelompok Siangkalinga Adae baru bisa mencapai produksi 800 ikat jaring udang setiap bulannya, dari permintaan sebanyak 1000 ikat jaring udang.

Kelompok usaha ini memberi kesempatan masyarakat rentan seperti janda-janda tua, penyandang difable (tuna daksa dan tuna netra) bisa tetap berpenghasilan dengan bekerja membuat jaring. Mereka tetap bisa mandiri dengan pekerjaannya, dan menabung untuk masa depannya. Anak-anak yang tadinya tidak bisa meneruskan sekolah ke jenjang SMA pun, kini bisa meneruskan pendidikannya setelah orang tua mereka mempunyai penghasilan dari menjaring.

Begitu juga dengan adanya Kelompok Kalaroang, Syarifah mengorganisir 10 orang nelayan-petani rumput laut yang masuk dalam kategori miskin. Syarifah dan anggota lainnya memanfaatkan in kind material sebanyak 20 ton bibit rumput laut untuk dibudidayakan. Dari bibit rumput laut ini kemudian dikembangkan. Rumput laut yang dibudidayakan adalah cottonii warna merah dan hitam, dengan kisaran harga jual /kg keringnya adalah Rp. 14.000-Rp. 16.000,-. Walaupun belum mencapai target menjadi supplier rumput laut yang akan diekspor, setidaknya penghasilan dari budi daya rumput laut bisa meningkatkan ekonomi masyarakat. Usaha sektor rumput laut menyerap tenaga kerja lumayan banyak, sehingga mengurangi pengangguran khususnya di Dusun Kekean, bahkan beberapa anak dari anggota sudah bisa meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi.

Di dua kelompok yang digagas oleh Syarifah, Kelompok Kalaroang dan Siangkalinga Adae, ia juga menanamkan rasa saling membantu antar anggota kelompok. Kelompok menyepakati sejumlah uang yang dikeluarkan setiap kali panen rumput laut dan setiap setelah penjualan jaring. Uang ini disisihkan dan disimpan sebagai tabungan kelompok. Tabungan ini digunakan jika ada anggota yang membutuhkan tambahan modal, atau akan digulirkan kepada masyarakat rentan lain yang membutuhkan bantuan modal untuk membuat jaring/budidaya rumput laut. Beberapa bulan sebelumnya, tabungan kelompok diberikan kepada anggota kelompok yang sakit dan harus opname di rumah sakit. Kelompok akhirnya menjadi wadah bagi anggota untuk saling membantu.

Saat ini Syarifah mungkin bisa sedikit bernafas lega, kegelisahannya beberapa tahun lalu bisa sedikit berkurang setelah melihat perubahan masyarakat di sekitarnya menjadi lebih baik. Anak-anak yang bisa menikmati sekolah, masyarakat rentan yang mempunyai pendapatan yang lebih baik, dan pengangguran di dusunnya yang berkurang.

(Sumber: http://sosok.kompasiana.com/2015/02/08/syarifah-guru-di-sekolah-guru-di-masyarakat-700528.html)


Fitur News