SEORANG guru di Madrasah Sanawiah Attaqwa 03, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Najib Yusuf, menciptakan aplikasi yang dapat mencegah para siswa mangkir sekolah. Selain itu, aplikasi benama Jetschool ini pun dapat memudahkan orangtua mengakses nilai dan kegiatan di sekolah.

Sejak dibangun pada Agustus 2017, Jetschool telah diujicobakan di enam sekolah di wilayah Jakarta dan Bekasi. Kini, Jetschool telah digunakan oleh sedikitnya 4.700 siswa.

"Jika sebelumnya aplikasi yang ada hanya dapat digunakan oleh siswa saja, orangtua saja atau sekoah saja. Tapi, saya mencoba mengintegrasikan semuanya dalam satu aplikasi dan alhamdulillah dapat diterima," kata Najib kepada "PR", Rabu 2 Mei 2018.

Dalam kesehariannya, Najib berprofesi sebagai guru mata pelajaran TI (teknologi dan informatika). Berbekal bekerja sebagai staf TI di Al-Azhar Rawamangun Jakarta selama lima tahun, Najib akhirnya berhasil menciptakan aplikasi antibolos tersebut.

Jetschool terdiri dalam tiga jenis, yakni bagi siswa, orangtua, dan sekolah. Khusus absensi siswa, aplikasi dihubungkan dengan mesin absensi sidik jari. Setiap siswa, baik datang maupun pulang, wajib mengisi absensi melalui sidik jari. Kemudian, dalam waktu yang sama, absensi tersebut langsung dilaporkan pada telefon seluler orangtua.

"Begitu juga saat pulang sekolah, siswa mengisi absensi lantas kemudian secara real time orangtua tahu jika anaknya memang sekolah. Tidak hanya saat masuk sekolah dan pulang sekolah, aplikasi ini pun melayani laporan hingga ke perpusatakaan," ucap dia.

Fitur unggulan

Dalam masa uji coba, Jetschool baru memiliki 8 fitur. Namun, setelah diperbaharui, untuk versi premium, Jetschool memiliki lebih banyak fitur. Selain absensi siswa, orangtua pun dapat mengetahui data siswa, nilai ujian hingga informasi administrasi keuangan sekolah.

Mimpi besar dari aplikasi terpadu ini, kata Najib, yakni agar orangtua dapat tetap mengetahui dunia pendidikan anaknya. "Dari aspek orangtua tentu aplikasi ini dapat membantu orangtua telibat lebih jauh soal pendidikan anak. Jika orangtua biasanya lihat nilai anaknya enam bulan sekali, sekarang mereka bisa melihat day to day. Ini penting karena dunia sekolah anak ini hanya sekali jangan sampai orangtua justru melewatkannya," ucap dia.

Selain membantu orangtua, lanjut Najib, Jetschool pun memudahkan siswa dalam belajar. Di dalam aplikasi tersebut pun tertuang ringkasan materi yang diujikan. "Termasuk memungkinkan guru melaksanakan ujian harian via aplikasi. Langsung dikerjakan di aplikasi, langsung dinilai dan nilainya langsung dapat diketahui orangtua," ucap Najib.

Bagi sekolah, Jetschool membantu dalam peningkatan pelayanan bagi orangtua. "Maka dari itu, beberapa sekolah sudah mulai menghubungi untuk menggunakan Jetschool," ucapnya.

Menghadapi tahun ajaran baru, Juni mendatang, Najib mengaku mulai kebanjiran tawaran kerja sama. Setidaknya terdapat enam sekolah baru yang telah sepakat menggunakan Jetschool. "Satu sekolah sebenarnya sudah sejak Januari lalu menggunakan Jetschool yang versi premium, bukan yang uji coba. Sedangkan lima sekolah lain mulai tahun ajaran baru nanti bakal menggunakannya," ucap dia.

Apresiasi

Pembangunan aplikasi Jetschool ini mendapat apresiasi dari Kementerian Riset dan Teknologi - Pendidikan Tinggi. Najib bahkan mendapat bantuan Rp 300 juta dari Kemenristek-Dikti dalam program bagi Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (PPBT).

"Karena ini start up maka memang dukungan ini sangat diperlukan. Harapan ini tentunya saya ingin Jetschool ini menjadi ekosistem manajemen dan informasi sekolah. Filosifinya kami ingin orangtua terlibat dalam proses paling penting anak di sekolah, karena usia sekolah tidak datang dua kali. Maka orangtua wajib terlibat meski dari kejauhan," ucap dia.

Pelajar MTs Attaqwa 3, Sabrina, menyambut baik aplikasi itu. Dengan Jetschool ia mampu melihat nilai hasil ujian dengan cepat. "Senang ada aplikasi ini karena bikin mudah oelajar dan bisa digunakan di handphone di rumah," ucapnya. Bagi sekolah yang telah bekerja sama, Jetschool dapat diunduh melalui app store.***
SEORANG guru di Madrasah Sanawiah Attaqwa 03, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Najib Yusuf, menciptakan aplikasi yang dapat mencegah para siswa mangkir sekolah. Selain itu, aplikasi benama Jetschool ini pun dapat memudahkan orangtua mengakses nilai dan kegiatan di sekolah.

Sejak dibangun pada Agustus 2017, Jetschool telah diujicobakan di enam sekolah di wilayah Jakarta dan Bekasi. Kini, Jetschool telah digunakan oleh sedikitnya 4.700 siswa.

"Jika sebelumnya aplikasi yang ada hanya dapat digunakan oleh siswa saja, orangtua saja atau sekoah saja. Tapi, saya mencoba mengintegrasikan semuanya dalam satu aplikasi dan alhamdulillah dapat diterima," kata Najib kepada "PR", Rabu 2 Mei 2018.

Dalam kesehariannya, Najib berprofesi sebagai guru mata pelajaran TI (teknologi dan informatika). Berbekal bekerja sebagai staf TI di Al-Azhar Rawamangun Jakarta selama lima tahun, Najib akhirnya berhasil menciptakan aplikasi antibolos tersebut.

Jetschool terdiri dalam tiga jenis, yakni bagi siswa, orangtua, dan sekolah. Khusus absensi siswa, aplikasi dihubungkan dengan mesin absensi sidik jari. Setiap siswa, baik datang maupun pulang, wajib mengisi absensi melalui sidik jari. Kemudian, dalam waktu yang sama, absensi tersebut langsung dilaporkan pada telefon seluler orangtua.

"Begitu juga saat pulang sekolah, siswa mengisi absensi lantas kemudian secara real time orangtua tahu jika anaknya memang sekolah. Tidak hanya saat masuk sekolah dan pulang sekolah, aplikasi ini pun melayani laporan hingga ke perpusatakaan," ucap dia.

Fitur unggulan

Dalam masa uji coba, Jetschool baru memiliki 8 fitur. Namun, setelah diperbaharui, untuk versi premium, Jetschool memiliki lebih banyak fitur. Selain absensi siswa, orangtua pun dapat mengetahui data siswa, nilai ujian hingga informasi administrasi keuangan sekolah.

Mimpi besar dari aplikasi terpadu ini, kata Najib, yakni agar orangtua dapat tetap mengetahui dunia pendidikan anaknya. "Dari aspek orangtua tentu aplikasi ini dapat membantu orangtua telibat lebih jauh soal pendidikan anak. Jika orangtua biasanya lihat nilai anaknya enam bulan sekali, sekarang mereka bisa melihat day to day. Ini penting karena dunia sekolah anak ini hanya sekali jangan sampai orangtua justru melewatkannya," ucap dia.

Selain membantu orangtua, lanjut Najib, Jetschool pun memudahkan siswa dalam belajar. Di dalam aplikasi tersebut pun tertuang ringkasan materi yang diujikan. "Termasuk memungkinkan guru melaksanakan ujian harian via aplikasi. Langsung dikerjakan di aplikasi, langsung dinilai dan nilainya langsung dapat diketahui orangtua," ucap Najib.

Bagi sekolah, Jetschool membantu dalam peningkatan pelayanan bagi orangtua. "Maka dari itu, beberapa sekolah sudah mulai menghubungi untuk menggunakan Jetschool," ucapnya.

Menghadapi tahun ajaran baru, Juni mendatang, Najib mengaku mulai kebanjiran tawaran kerja sama. Setidaknya terdapat enam sekolah baru yang telah sepakat menggunakan Jetschool. "Satu sekolah sebenarnya sudah sejak Januari lalu menggunakan Jetschool yang versi premium, bukan yang uji coba. Sedangkan lima sekolah lain mulai tahun ajaran baru nanti bakal menggunakannya," ucap dia.

Apresiasi

Pembangunan aplikasi Jetschool ini mendapat apresiasi dari Kementerian Riset dan Teknologi - Pendidikan Tinggi. Najib bahkan mendapat bantuan Rp 300 juta dari Kemenristek-Dikti dalam program bagi Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (PPBT).

"Karena ini start up maka memang dukungan ini sangat diperlukan. Harapan ini tentunya saya ingin Jetschool ini menjadi ekosistem manajemen dan informasi sekolah. Filosifinya kami ingin orangtua terlibat dalam proses paling penting anak di sekolah, karena usia sekolah tidak datang dua kali. Maka orangtua wajib terlibat meski dari kejauhan," ucap dia.

Pelajar MTs Attaqwa 3, Sabrina, menyambut baik aplikasi itu. Dengan Jetschool ia mampu melihat nilai hasil ujian dengan cepat. "Senang ada aplikasi ini karena bikin mudah oelajar dan bisa digunakan di handphone di rumah," ucapnya. Bagi sekolah yang telah bekerja sama, Jetschool dapat diunduh melalui app store.***


Fitur News