Para guru dan kepala madrasah tidak hanya sekadar memberikan materi pelajaran demi mencapai beban kurikulum.

Tetapi mereka juga harus senantiasa berinovasi, baik dalam menyusun materi pembelajaran, metode pembelajaran, maupun media pembelajaran.

Melalui berbagai penemuan dan penelitian yang dilakukan, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI berupaya mempublikasikan prestasi dan keteladanan sehingga diharapkan mampu menginspirasi para guru madrasah di berbagai daerah di Indonesia.

Buku  ini berupaya memberikan inspirasi kepada para pendidik di sekolah dan madrasah melalui kisah-kisah teladan para guru dan kepala madrasah. Bahkan bukan hanya mengemukakan keteladanan, para sosok guru dalam buku ini juga menopang keteladanan dengan prestasi membanggakan.

Secara teknis dan praktis, kesuksesan para peserta didik di madrasah atau sekolah dikarenakan faktor guru. Guru memainkan peran penting dalam memberikan pemahaman kepada para siswa akan sebuah materi pelajaran. Bukan hanya faktor kognitif, guru juga menjadi role model bagaimana pengetahuan para siswa ditopang dengan akhlak mulia (afektif) sehingga memunculkan berbagai potensi dan keterampilan (psikomotorik) para siswa.

Buku setebal 348 halaman ini berupaya memberikan inspirasi kepada para pendidik di sekolah dan madrasah melalui kisah-kisah teladan para guru dan kepala madrasah. Bahkan bukan hanya mengemukakan keteladanan, para sosok guru dalam buku ini juga menopang keteladanan dengan prestasi membanggakan.

Bagi seorang guru, mengukir teladan dan prestasi tidak hanya bisa dilakukan di dalam kelas, tetapi juga harus berprestasi di luar kelas. Hal ini penting dalam rangka menebar inspirasi kepada peserta didik. Seperti yang dilakukan oleh guru bernama Widya Lestari (38), guru Madrasah Aliyah (MA) Salafiyah Kajen, Pati, Jawa Tengah. Melalui kompetensi pedagogiknya, dia berhasil menggondol Juara I guru MA berprestasi tingkat Kabupaten Pati. Pada 2015, dia juga berhasil menyabet Juara III tingkat Provinsi Jawa Tengah.

Dalam proses pembelajaran, Widya juga melakukan berbagai inovasi. Dia kerap kali mementuk forum pembelajaran luar kelas yang disebutnya study excursion. Hingga saat ini, metode tersebut identik dengan dirinya. Siswa dalam pandangan Widya mempunyai potensi yang luas dalam dirinya. Sehingga ia tidak mau siswanya hanya melulu belajar di dalam kelas.

Teladan dan prestasi lain ditunjukkan oleh Ahmad Hidayatullah, pada tahun 2012-2015, ia menjadi Kepala MAN 3 Malang, Jawa Timur. Ia berhasil membawa MAN 3 Malang menjadi madrasah berkelas, bahkan secara internasional. Sebelum memimpin MAN 3 Malang, ia juga berhasil mengarsiteki MAN IC Gorontalo dan Serpong. Untuk prestasinya ini, Ahmad sampai dijuluki sebagai arsitek madrasah kelas dunia.

Widya Lestari dan Ahmad Hidayatullah merupakan dua dari 25 guru dan kepala madrasah yang dikisahkan secara apik dalam buku ini. Mereka tak hanya bekerja karena tuntutan kurikulum belaka, tetapi juga gigih sepenuh hati dalam memberikan kemampuan dan pengabdian terbaik untuk para siswa dan institusinya.

Buku ini memberikan gambaran kepada para guru dan kepala madrasah bahwa untuk mencapai tingkat di mana pendidikan menjadi rumah berkualitas bagi para siswa, dibutuhkan kerja keras dan inovasi tiada henti. Hal ini dilakukan untuk memajukan pendidikan itu sendiri, khususnya di madrasah.

Dalam buku ini, para sosok guru dan kepala madrasah juga memberikan inspirasi bahwa madrasah tidak hanya mampu menumbuhkan akhlak mulia, tetapi juga menawarkan kualitas pendidikan untuk meningkatkan sumber daya manusia yang siap bersaing di era global. Tulisan dalam buku ini dikemas secara naratif dengan gaya bahasa renyah dan ringan sehingga pembaca tidak akan terasa monoton untuk mecapai kata demi kata dan kalimat demi kalimat.  Kisah selengkapnya ke-25 guru inspiratif dapat diunduh disini (http://madrasah.kemenag.go.id)


Fitur News