Itulah ucapan Hendro kecil kepada ayahnya ketika masih duduk di kelas 3 SD.  Kini Hendro Murjoko telah menjadi guru senior yang mengajar kimia di MAN Insan Cendekia Gorontalo. Datang dari daerah yang jauh bersama keluarga, ia tidak berpikir akan merantau jauh ke luar dari kampungnya.

Kini ia sudah menikmati hidup di Gorontalo bersama keluarga dan para siswanya. Ia datang ke madrasah paling pagi, dan pulang paling sore. Ia hampir tidak pernah kemana-mana selain madrasah. Sesekali waktu ia mengundang guru kimia dari sekolah lain ke MAN Insan Cendekia untuk belajar bersama.

Ditemui di sekretariat MAN Insan Cendekia Gorontalo, beberapa waktu lalu, bapak tiga anak ini keliahatan segar. Badannya yang tegap dan atletis menunjukkan kalau ia gemar berolahraga. Usianya sudah hampir kepala lima, tapi ia kelihatan lebih muda. Kesan paling menarik ketika berbincang dengan Pak Hendro adalah ketika ia bercerita tentang kepala sekolahnya dulu sewaktu ia sekolah di Lampung. Namanya Pak Mardi R. Ia sangat fasih kalau mengatakan huruf “R”.

Ia bercerita banyak hal tentang pengalaman pribadinya, sampai akhirnya menjadi guru dan sempat menjadi kepala madrasah di MAN Insan Cendekia Gorontalo. Ia merasa belum tuntas belajar agama. Dan di madrasah ini, sembari mengajar kimia, ia merasa “terkondisikan” untuk memperdalam agama.

 

Hidayah dari Langgar Kampung

Hendro Murjoko lahir dari keluarga non muslim. Ayahnya yang berasal dari Solo menganut agama Kristen Protestan. Ibunya dari Wonosobo sempat Muslim kemudian pindah agama. Mereka menikahnya secara Islam tetapi tidak menjalankan agama. Kemudian sekitar tahun 1965 setelah peristiwa Gestapu, mereka kembali ke Kristen. Namun keluarganya memberikan kebebasan kepada Hendro kecil dan saudaranya untuk menganut agama yang diyakini. Ia bererita bagaimana pertama kali ia mengucap dua kalimat syahadat dan mempertahankannya dari rayuan pendeta yang mengajaknya ikut agama Protestan.

Pintu hidayah datang saat Hendro masih duduk di kelas 3 SD. Waktu itu ia diajak temannya mengaji di sebuah langgar kampung, sekitar 200 m dari rumahnya di Lampung. Ayah dan ibunya pindah dari Jawa ke Lampung dan ia lahir di sana.

“Saya ngomong sama orang tua. Pak saya mau ke masjid tapi nggak punya sarung sama kopyah. Kata bapak saya, besok kalau bapak dapat uang akan bapak belikan. Ternyata benar, saya dibelikan sarung dan kopyah baru,” kenangnya.

Setelah mendapat sarung dan peci baru ia pergi ke langgar. Guru mengaji di kampungnya bernama Kang Sukito yang kemudian berganti menjadi Zainal Abidin, berusia lima tahun diatasnya dan sudah dianggap seperti kakak sendiri. Gurunya bertanya, “Dro kog kamu ngaji ayo baca syahadat dulu saya bimbing,” kata Kang Kito, panggilan akrabnya. Sejak itu sampai lulus SMP selam 6-7 tahun Hendro sering tidur di langgar.

Namun ternyata ia masih tetap dirayu untuk kembali ke gereja. Kata pendeta kepada keluarganya, nanti tidak bahagia kalau ada anaknya yang ‘murtad’. Bahkan ia selalu diajak dialog oleh pendeta sampai ia beranjak SMA dan diajak ke gereja. “Tapi bapak saya tidak masalah,” kata Hendro. Ia kukuh menjalankan agama Islam.

Ketika duduk SMA, Hendro mengikuti pelajaran agama agama Islam. Ada satu cerita ketika ia dites lisan bacaan shalat oleh guru agamanya yang bernama Pak Ali Supaat.

“Waktu dites saya betul-betul tidak bunyi. Guru saya menyarankan setelah lulus dari sini kamu mondok ya itu jalan satu-satunya. Saat itu baru terketuk saya harus belajar lagi,” kata Hendro. Sejak itu ia memperdalam agama kepada guru agama di sekitarnya. Ia juga gemar membaca buku-buku agama dan belajar secara otodidak.

Sejak tahun 1990-an ia sudah mengajar di Lampung. Tahun 1995, ketika ada lowongan menjadi guru di Insan Cendekia yang diproyeksikan sebagai sekolah Islam unggulan dan mengadopsi sistem belajar pesantren, Hendro langsung teringat pesan dari gurunya yang menyarankan ia mondok atau belajar di pesantren. Mungkin itulah cara Yang Kuasa memberikan jalan. Di Insan Cendekia, ia semakin mantap memperdalam agama. “Di sini (Insan Cendekia Gorontalo) semua guru terkondisikan untuk memperdalam agama,” katana. (http://www.pendidikanislam.id)

 


Fitur News