Sejak menerapkan pendidikan berbasis riset, MAN 2 Kudus telah menghasilkan ratusan karya inovatif yang dibuat oleh siswanya. Puluhan prestasi tingkat nasional hingga internasional berhasil ditorehkan madrasah ini.

‘’Tiap tahun saja, ada lebih dari 100 karya yang dibuat siswa. Karya-karya ini dikirim ke berbagai lomba karya ilmiah dan karya inovatif siswa,’’ kata Miftakhul Falah, guru pembina riset di MAN 2 Kudus. Falah menambahkan, riset merupakan kegiatan wajib yang harus dikerjakan siswa dalam proses belajar. Kegiatan ini masuk dalam kurikulum ataupun ekstrakurikuler.

Program tersebut saling berkesinambungan, untuk menghasilkan karya yang inovatif dan bisa langsung diaplikasikan dan dimanfaatkan oleh masyarakat. ‘’Riset memang sudah menjadi budaya di sekolah kami. Setiap pelajaran memuat riset untuk membiasakan siswa ketika kuliah, bekerja, dan terjun ke masyarakat,’’katanya.

Karya yang Dihasilkan

Budaya riset yang diterapkan di sekolah ini telah menghasilkan banyak karya, seperti fousis umbrella, pegangan tangan di bus dengan menggunakan karet fakum, jas hujan yang bisa digunakan pula untuk penutup jok motor dan tenda, alat pembelah durian, batik dengan corak dari perhitungan rumus-rumus Trigonometri, cairan kimia untuk mendeteksi sakarin, ransel multifungsi, serta ekstrak keping biji mangga untuk pengawet alami daging.

‘’Seperti pengawet daging alami ini bisa langsung dimanfaatkan dalam kehidupan seharihari. Inilah fungsi riset,’’ tuturnya.

Kepala MAN 2 Kudus Drs H Ahmad Rif’an MAg menambahkan, MAN 2 Kudus terus berkomitmen untuk mengembangkan madrasah berbasis riset. Program penelitian dan pembuatan produk inovatif menjadi salah satu perhatian khusus sekolah.

Selain itu, pengembangan ilmu agama juga tetap menjadi prioritas untuk mewujudkan siswa yang berakhlak mulia. ‘’Tidak sekadar ilmu pengetahuan umum dan riset saja, pendidikan agama dan moral tetap menjadi prioritas kami di tengah krisis moral yang mengancam bangsa ini,’’tegasnya.


Fitur News