Seorang guru memasuki ruang kelas yang ribut. Sebelum mendekati mejanya dan duduk di kursi, guru ini sudah memperingati para siswa agar tenang dan tidak membuat keributan. Beberapa saat kemudian, seperti sudah terbiasa dengan “Atmosfir” kelas, guru dan para siswa sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Bagaimana mengatasinya?

 

Sesekali guru menjelaskan pelajaran yang hanya didengarkan oleh beberapa siswi. Saat mereka sudah nampak bosan, guru berhenti menjelaskan dan kembali duduk di kursi di belakang mejanya, sibuk mencatat sesuatu. Entah apa yang dicatatnya. Kelas begitu tidak terkontrol. Banyak siswa yang bahkan tidak respek (tidak menghiraukan) dengan keberadaan gurunya di kelas.

Suasana kelas seperti ini masih terlihat di kelas-kelas di Indonesia. Parahnya lagi, sang guru pun ternyata tidak memiliki gairah dalam mengajar (terutama karena respek yang ditunjukkan siswa begitu buruknya). Maka, mengajar hanya menghitung menit ke menit saja. Guru hanya menjalani kewajiban dan mengajar seadanya. Kelas menjadi hambar. Nyaris tidak ada upaya kreatif untuk mengubah kelas menjadi lebih hidup.

Banyak guru–terutama guru mata pelajaran yang membutuhkan hafalan–mengeluhkan keadaan kelas macam ini. Sialnya, di sisi lain, mereka pun masih menerapkan metode konvensional dengan cara menjelaskan pelajaran panjang lebar sambil sesekali melihat catatan kecil atau membaca buku diktat, menjelaskan lagi sembari menunggu pertanyaan dari siswa.

Ada juga cara yang lebih efisien yang mereka lakukan namun tetap konvensional karena tak ada jaminan efektifitas belajar siswa diperoleh yaitu dengan bantuan bagan-bagan saat menjelaskan pelajaran.

Sementara itu, ada pula guru yang mencoba mengakomodasi penggunaan PowerPoint dan LCD proyektor dalam mempresentasikan pelajaran namun sayangnya format paparan masih memakai bullet point sehingga slide banyak dihiasi jejeran kalimat yang memusingkan. Bahkan, lebih buruk lagi, sang guru hanya membaca semua kalimat yang ada di slide. Ia tidak sadar bahwa siswa pun sebenarnya bisa membaca sendiri apa yang sudah terpampang di slide presentasi.

Sebenarnya bila guru mau sedikit kreatif, maka mengajar pelajaran yang membutuhkan hafalan bukan sebuah pengalaman yang membosankan lagi bagi siswa. Kelas pasti terasa jauh lebih hidup, siswa juga akan banyak menyerap pelajaran dan pada gilirannya siswa akan merasa senang dan betah di kelas.

Pertama, guru harus melibatkan seluruh siswa di kelas secara total. Apa pun yang terjadi di kelas, siswa harus merasa terlibat dan dilibatkan. Misalnya, saat seluruh siswa di kelas nampak sangat bosan bahkan beberapa dari mereka membuat kelompok mengobrol tanpa sedikitpun menunjukkan respek pada guru, seketika itu pula guru sebaiknya menanyakan secara terbuka pada seluruh siswa apa yang sebenarnya yang menjadi kesukaan dan ingin mereka lakukan pada saat itu.

Kemudian, guru bisa mendata semua keinginan siswa, orang per orang. Secara terbuka guru bisa memberi kebebasan pada mereka untuk berpendapat sebebas-bebasnya bahkan untuk keinginan yang “tidak masuk akal” sekalipun. Pendataan ini pun bisa melibatkan siswa.

Dari hasil pendataan itu, bila memang untuk efisiensi waktu, guru bisa membuat kelompok siswa dengan keinginan / kesukaan yang sama atau sepadan. Sehingga dengan begitu, secara natural siswa akan membentuk kelompok sendiri. Siswa bisa terlibat langsung dalam pengelompokan ini. Pun, guru bisa melibatkan siswa “pengacau” untuk menjadi sekretaris yang mencatat setiap anggota kelompok. Guru hanya memantau.

Seandainya pun pada saat pengelompokan tersebut ternyata setiap siswa memiliki keinginan yang berbeda, maka guru dengan bantuan siswa tetap bisa membuat kelompok lalu membuat kesepakatan dengan semua  kelompok bahwa keinginan siapa (kelompok yang mana) dulu yang bisa direalisasikan pada saat itu sementara keinginan yang lain bisa direalisasikan pada pertemuan berikutnya. Dengan keadaan ini, siswa sudah merasa penasaran pada apa yang akan terjadi pada pertemuan-pertemuan berikutnya.

Setelah pengelompokan selesai, guru bisa mengutarakan bahwa ia ingin merealisasikan semua keinginan dan kesukaan mereka tetapi ia juga menginginkan semua siswanya memahami tentang pelajaran yang ingin disampaikannya. Oleh karena itu, guru bisa memberi kebebasan pada siswa untuk mengeksplorasi semua ide ”gila” mereka dan membiarkan mereka berdiskusi. Guru hanya memantau, mengevaluasi, menilai serta mengontrol saja apakah ide mereka itu masuk akal untuk dipraktekkan dan diaplikasikan di kelas.

Untuk memudahkan mereka, guru bisa memberi contoh kegiatan yang bisa mereka lakukan yang menggabungkan antara merealisasikan keinginan mereka dengan proses belajar untuk memahami pelajaran yang akan disampaikan oleh guru.

Misalnya, bila ada yang suka puisi maka dipersilahkan untuk membuat dan memperagakan puisi tersebut di depan kelas yang tentu saja isinya tentang pelajaran yang bersangkutan.

Bila ada yang suka menyanyi, mereka juga dipersilahkan untuk bernyanyi yang isinya pun tentang pelajaran dengan meniru aransemen lagu-lagu terkenal. Bila ada yang suka drama dipersilahkan melakukan drama yang ceritanya tentang pelajaran.

Pendek kata, guru memastikan bahwa siswa merasa diberi kebebasan seluas-luasnya untuk mengeksplorasi apa yang mereka bisa. Dengan begitu, maka bisa dilihat kreatifitas-kreatifitas yang muncul di kelas yang bahkan mungkin akan mengejutkan semua orang. Siswa pun akan merasa bangga karena bisa melakukan sesuatu terhadap pelajaran yang selama ini membuat mereka bosan. (Sumber: http://edukasi.kompasiana.com)


Fitur News