Hari Minggu pukul empat dini hari di rumah. Sudah hampir sebulan ini Kang Bejo punya kegiatan rutin, yaitu berjamaah sholat subuh di masjid yang berjarak sekitar 100 meter. Karena dekat, Kang Bejo berjalan kaki.

Jalur Kang Bejo melewati sebuah rumah kontrakan berukuran sekitar 20 m2 yang dihuni oleh 5 orang tukang becak yang berasal dari kampung di Jawa.

Rumah kontrakan menjorok ke dalam selebar empat meteran. Ruang depan kontrakan itulah yang dipakai untuk tidur ramai-ramai dengan hanya beralaskan tikar. Ini terlihat karena bagian depan berkaca dan tidak ada kordennya. Di dinding, banyak pakaian dicantelan. Di depan rumah kontrakan ada halaman tempat becak-becak diparkir.

Setiap subuh ketika Kang Bejo lewat di depannya, para tukang becak itu sudah bangun dan melakukan aktivitas. Kang Bejo tidak tahu persis aktivitas apa itu. Kang Bejo hanya menduga aktivitas itu tentunya adalah persiapan untuk menarik becak. Kang Bejo merasa tidak enak untuk memeloti aktivitas mereka. Toh buat Kang Bejo tidak penting dan tidak ada gunanya untuk mengetahui lebih jauh. Setiap kali lewat, Kang Bejo tidak pernah memalingkan wajahnya untuk melihat ke arah merek. Kang Bejo biasanya berlalu dengan agak cepat, karena dia ingin sampai di masjid 15 menit sebelum adzan berkumandang. Kebiasaan itu membuat Kang Bejo tidak tahu sama sekali para tukang becak itu beraktivitas apa di pagi yang masih gelap. 

Setiap kali Kang Bejo lewat setiap kali itu pula menyayangkan tukang becak kenapa mereka tidak ke masjid saja, seperti halnya dia. Toh sudah bangun dan terlihat sudah beraktivitas dengan intens. 

Kang Bejo merasa bersyukur diberi nikmat dalam bentuk niat, kesempatan, kemampuan dan realisasi melaksanakan sholat subuh berjamaan di masjid. Rasa syukur ini bertambah karena Kang Bejo secara ekonomi lebih baik dari tetangga di lingkungannya.

Namun, disinilah bencana mulai mengintip. Rasa syukur tersebut berpotensi menimbulkan kesombongan akan kesalehan beribadah. Bisikan bahwa dia merasa lebih saleh dibandingkan dengan para tukang becak adalah ancaman terhadap kemurnian ibadahnya. Bisikan bahwa dia mampu menjalankan syariat agama lebih baik dibandingkan dengan tukang becak tetangganya dapat menodai keikhlasan beribadah Kang Bejo. Rasa bahwa dia lebih mampu bersyukur dibandingkan dengan tukang becak tetangganya dapat menggerogoti ketaqwaannya pada Allah. 

"Coba kalau mereka sholat subuh" begitu lontaran pikiran Kang Bejo setiap kali melewati rumah kontrakan pada waktu berjalan menuju masjid untuk berjamaah sholat subuh.

Namun pagi itu berbeda dengan pagi-pagi biasanya. Entah mengapa Kang Bejo melambatkan langkah kakinya dan memalingkan wajahnya untuk mengamati lebih seksama apa yang sedang mereka lalukan. 

Kang Bejo tertegun sejenak melihat apa yang dilakukan oleh 3 orang tukang becak di ruangan yang diterangi oleh lampu bohlam 25 watt. Ketiga orang itu ternyata sedang berjamaah sholat subuh. Mereka sudah pada penghujung sholat yaitu sudah pada posisi duduk takhiyat akhir. 

Pemandangan itu hanya sekilas, hanya beberapa detik saja. Namun, momen sekejap itu mampu menyentak dan menggoncangkan ruang batin Kang Bejo. Pemandangan tersebut mampu memporakporandakan kesadaran Kang Bejo akan arti kesalehan. Pemandangan itu serta merta menjungkirbalikkan perasaan bahwa lebih saleh dari tukang becak tetanggatnya itu.

"Ah jangan-jangan aku kalah jauh ketaqwaannya dibandingkan dengan mereka yang tidakl pernah berjamaan sholat subuh" Kang Bejo mulai menggugat diri sendiri. 

Kang Bejo mulai merasa malu pada diri sendiri mengingat dia pernah punya perasaan menyayangkan aktivitas tukang becak tetangganya yang tidak ke masjid. 

Kang Bejo beristigfar dalam hati.


Fitur News