Pagi itu, Yu Bejo sedang berkutat di dapur.  Sesaat kemudian, Yu Bejo minta Kang Bejo mengawasi dapur karena Yu Bejo akan ke tukang sayur yang ada di depan rumah.  Dapur perlu ditunggu untuk mencegah kucing-kucing makan tempe goreng tepung yang ada di meja dapur.

Sambil berlalu melewatinya, Yu Bejo berkata kepada Kang Bejo dengan nada bercanda "Jangan  ambil tempenya ya" . Candaan ini terucap karena Kang Bejo punya kebiasaan kalau Yu Bejo sedang masak di dapur, Kang Bejo bolak-balik ke dapur nyomot masakan yang ada.  Larangan Yu Bejo itu pastilah tidak serius.

Saat itu, anaknya Kang Bejo yang masih kecil juga sedang bersamanya di ruang keluarga, dan mendengarkan "larangan"  Yu Bejo. Bahkan,  Yu Bejo memperkuat "larangan" tersebut dengan "menginstruksikan" anaknya menjadi pengawas agar Kang Bejo tidak iseng mencomot tempe goreng tersebut.  "Instruksi" itupun pastilah tidak serius.

Kang Bejo tidak tahan terhadap godaan aroma tempe goreng tepung yang samar-samar menyelinap dan tertangkap sensor penciuman di hidung. Kang Bejo beranjak dari kursinya menuju ke dapur, bermaksud mencomotnya.

Anaknya Kang Bejo merasa mendapat "amanah" untuk mengawasi ayahnya mengingatkannya agar mematuhi "larangan" ibunya. 

Kang Bejo tetap melangkah ke dapur, mencomot dua potong tempe goreng dan kembali ke ruang keluarga.  Sepotong disodorkan kepada anaknya.  Anaknya menerima sepotong tempe tersebut.

Terjadilah "konspirasi" yang berimplikasi pada "pembangkagan dan penghianatan" terhadap "larangan dan amanah" yang diemban oleh bapak-anak.  Telah terjadi tindak  "pidana" penyuapan yaitu penyuapan dengan menggunakan sepotong tempe.


Fitur News