Saat ini kita berada pada era global. Arus globalisasi –tentunya- membawa dampak terhadap pembangunan karakter bangsa dan masyarakatnya.

Globalisasi memunculkan pergeseran nilai. Nilai lama semakin meredup, yang digeser dengan nilai-nilai baru yang belum tentu pas dengan nilai-nilai kehidupan di masyarakat.

Sudah tidak diragukan lagi bahwa pesantren memiliki kontribusi nyata dalam pembangunan pendidikan. Apalagi dilihat secara historis, pesantren memiliki pengalaman yang luar biasa dalam membina dan mengembangkan (karakter) masyarakat. Bahkan, pesantren mampu meningkatkan perannya secara mandiri dengan menggali potensi yang dimiliki masyarakat di sekelilingnya.

Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang khas. Kegiatannya terangkum dalam “Tri Dharma Pesantren” yaitu:

  1. Keimanan dan ketaqwaan kepada Allah swt
  2. Pengembangan keilmuan yang bermanfaat;
  3. Pengabdian kepada agama, masyarakat, dan negara.

Dalam pengantarnya di buku ini, Siradj (2014:xi) menegaskan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan yang genuin dan tertua di Indonesia. Eksistensinya sudah teruji oleh zaman, sehingga sampai saat ini masih survive dengan berbagai macam dinamikanya.

Alhasil, pesantren memiliki posisi strategis untuk turut mengawal pengembangan pendidikan karakter. Pendidikan karakter merupakan upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia dalam praktik kehidupan dalam masyarakat. Dalam proses pendidikan, internalisasi nilai-nilai budaya dan karakter merupakan salah satu upaya untuk mencegah terjadinya degradasi etika dan moral di kalangan remaja.

Perlu disadari bahwa kemajuan suatu bangsa akan tergantung bagaimana karakter orang-orangnya, kemampuan inteligensinya, keunggulan berpikir warganya, sinergi para pemimpinnya, dan lain sebagainya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter adalah penting dalam membangun moral dan kepribadian bangsa. Pendidikan karakter seyogyanya ditempatkan sebagai landasan untuk mewujudkan visi pembangunan nasional, yaitu mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila.

Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang holistik integratif. Internalisasi pendidikan karakter di pesantren ditekankan untuk menanamkan kebiasaan (habituation) tentang hal yang baik sehingga peserta didik menjadi paham (kognitif) tentang mana yang benar dan salah, mampu merasakan (afektif) nilai yang baik dan biasa melakukannya (psikomotor).

Buku ini hadir dalam rangka turut berkontribusi dalam pengembangan pendidikan karakter. Buku ini menggambarkan dengan tepat nilai-nilai luhur yang diajarkan, dipraktikkan, dan dihidupkan di pesantren dengan basis keteladanan para kiai/nyai dan doktrin kitab kuning yang telah membentuk karakter para santri. Terbitnya buku ini merupakan sumbangsih nyata untuk mewujudkan insan kamil yang berkarakter. Sangat inspiratif.

Data buku

  • Judul : Pendidikan Karakter Berbasis Tradisi Pesantren
  • Penulis : Lanny Octavia, dkk
  • Kata Pengantar : KH. Said Aqil Siradj
  • Penerbit : Renebook Jakarta
  • Cetakan : I, Februari 2014
  • Tebal : xviii + 290 hlm
  • ISBN : 978-602-1201-06-0
  • Peresensi : Abdul Halim Fathani, pemerhati Pendidikan, tinggal di Kota Malang

(Sumber: http://uin-community.us)


Fitur News