Etos Kerja Guru Madrasah

Sebagai guru madrasah harus sadar dan menyadari bahwa kita akan selalu menghadapi persoalan kaitannya dengan tugas dan tanggungjawab profesi, yaitu:

pertama: persoalan siswa dengan segala latar belakangnya, metode dengan segala ragamnya, dan kurikulum dengan segala perangkatnya dan keharusan peningkatan kualitas dan profesionalisme, terutama masalah pendidikan dan pengajaran yang kadang-kadang tidak sebanding dengan tanggungjawab yang diembannya, yaitu membentuk kepribadian siswa. Kedua, dalam tangan guru madrasah perubahan anak manusia sebagian diserahkan untuk pembinaan moral, disamping orang tua di rumah. Karena ia dituntut untuk dapat melahirkan anak bangsa menjadi manusia-manusia yang berkualitas dan bermoral yang kokoh. Apalagi sekarang, guru madrasah adalah juga sebagai “guru moral-spiritual”. Ini dimaksudkan agar guru dapat mengamati perkembangan intelektual, moral dan spiritual siswa, sehingga siswa akan terpantau secara terus-menerus.

Disamping itu, guru madrasah dituntut untuk selalu mengembangkan kemampuan profesional dan intelektual untuk merangsang perkembangan ilmu dan teknologi, sehingga terdapat suasana yang komunikatif dengan siswanya. Hal inilah yang akan membawa guru semakin eksis dan dicintai oleh siswanya. Karena guru dalam mengikuti perkembangan zaman dituntut untuk mempunyai ide dan pikiran yang dinamis, produktif, dan inovatif, sehingga siswa dalam pemahaman ilmu dan agamanya akan lebih kritis terhadap persoalan-persoalan yang berkembang di masyarakat.

Untuk mewujudkan semua itu, guru harus membekali diri dengan seperangkat nilai, sikap, dan kemampuan yang mencakup: kepandaian, ketrampilan, ketelitian, kesabaran, kejujuran, kedisiplinan, keterbatasan, kehormatan diri, dan ketaatan menjalankan perintah agama, sehingga guru dapat menjadi uswah hasanah dan menjadikan siswa ber-akhlakul karimah. Akhlakul karimah tidak hanya sekedar siswa dapat membedakan baik-buruk tetapi lebih dari pada itu. Akhlakul karimah dapat tercermin dalam pribadi yang mandiri, jujur, disiplin, bertanggungjawab, tidak pamrih, cinta ilmu, cinta kemajuan, kritis, dan suka bekerja keras (Mudzhar, 1992).

Secara praktis-pragmatis, dengan mengadaptasi pemikiran Dimyati (1988), paling tidak ada 4 hal yang harus dipertimbangkan oleh guru dalam menjalankan tugas mendidik dan mengajar di madrasah, yaitu:

1. Guru harus banyak membaca dan mengikuti perkembangan informasi yang ada di sekitarnya, guna dimanfaatkan untuk memudahkan pekerjaannya. Pengetahuan dan pemahaman akan infomasi yang berkembang dapat memudahkan guru untuk mengantisipasi dampak negatif yang mungkin dapat dibawa oleh informasi itu.

2. Guru harus memahami: (a) tahap-tahap perkembangan berfikir, moral, dan kepercayaan eksistensial siswa, (b) guru harus trampil membelajarkan siswa berdasarkan kemajuan tingkat-tingkat kognitif, efektif, dan psikomotorik, (c) guru harus memahami budaya de-humanisasi, perbudakan dan keberhalaan yang terkandung dalam benda-benda teknologi, dan (d) guru harus memahami bahwa pembelajaran berlangsung sepanjang hayat, dan secara komplementer akan sejalan dengan pembelajaran pada bidang ilmu, kesenian, dan kesusilaan.

3. Guru harus memahami bahwa pembelajaran yang berfokus pada kemajuan kepercayaan eksistensial tidak berada dalam suasana vakum/kosong, tetapi teruji dengan berbagai benda, perilaku, norma, nilai, ide, dan simbol modern masyarakat industri. Disilah diperlukan kearifan bagi guru dalam menterjemahkan produk-produk industri modern.

4. Guru harus memahami bahwa, pemilihan unsur-unsur budaya manapun, dan pilihan strategi, metode, dan teknik pembelajaran apapun, tolok ukur keberhasilannya adalah dampak pengiring yang mewujudkan pribadi muslim atau anak shaleh yang termanifestasikan pada pribadi umat yang dewasa.

Apabila guru madrasah dapat melaksanakan hal tersebut, saya yakin lembaga pendidikan yang dibina, dimanapun juga, akan menjadi pilihan umat. Untuk itu, menjadi pilihan umat dan selalu memberikan yang terbaik harus menjadi idaman kita bersama.

Pendidikan pada dasarnya berlangsung seumur hidup. Bahkan Nabi kita Muhammad saw. telah bersabda “tuntutlah ilmu mulai lahir sampai ke liang kubur”. Ini memberikan implikasi bahwa tidak ada kata berhenti untuk belajar. Termasuk para guru yang ditugaskan untuk mengikuti pelatihan di berbagai tempat. Belajar, disamping sebagai pengamalan sabda nabi, juga merupakan penggilan suci bagi kita untuk menyiapkan generasi yang handal dalam menyongsong Indonesia Baru. Untuk itu, belajar dimanapun dan kapanpun berada, janganlah dijadikan sebagai beban, tetapi hendaknya dijadikan sebagai panggilan suci untuk beribadah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

(Sumber: http://agusmaimun.lecturer.uin-malang.ac.id)