Oleh: Prof. Dr. Nur Kholis Setiawan
Diversifikasi Madrasah bukanlah sebuah istilah yang mengada-ada atau latah belaka. Istilah ini muncul dari kondisi riil dan juga analisis SWOT (Strenght, Weekness, Opportunity and Treath) terhadap madrasah di Indonesia.

Jika berpijak pada data statistik murni kita memiliki total 72.726 lembaga madrasah. Dari jumlah total tersebut, hanya 9 persen yang riil dikelola oleh pemerintah—dalam hal ini Kemenag, sedangkan 91 persen dikelola oleh masyarakat (yayasan). Sehingga  dari sisi faktual historis sosialogis, madrasah adalah community based-institusion, institusi berbasis masyarakat.

Fakta mayoritas 91 persen madrasah yang dikelola masyarakat, yang masyarakat ini senantiasa berkembang dan dinamis, maka tentu kebijakan-kebijakan yang dimiliki atau yag dikeluarkan ditpenma sebagai payung pengelola dan pembinaan madrasah, mesti juga berbasis dari analisis dimanika yang terjadi di tengah-tengah masyakarat.

Oleh karena itu, ketika kami dari Direktorat Pendidikan Madrasah (Ditpenma) menjalankan amanah PMA No. 10 Tahun 2010, maka tentunya tidak boleh keluar dari sisi faktual historis dan sosiologis madrasah tadi. Dengan kata lain, bagaimana Ditpenma, harus senantiasa melihat dan inline dengan dinamika yang berkembang di masyarakat. Diversifikasi atau penganekaragaman madrasah menjadi kata kunci dalam mengembangkan madrasah secara simultan.

Mengapa diversifikasi penting? Karena kita ingin mendorong tumbuh dan kembangnya kontastasi (pertarungan) madrasah dalam hal yang positif dan yang sehat. Kontastasi adalah persaingan yang sehat, karena hidup itu sejatinya adalah kontastasi. Ketika kita mengedepankan diversifikasi dengan melihat madrasah yang banyak, yang beragam dan yang memiliki beragam potensi, lalu kita dorong keanekagaraman tersebut melalui skema-skema program seperti bantuan, maka kita berharap ada icon-icon tertentu yang muncul dari madrasah. Ada madrasah yang potensi ekonominya kuat, dengan koperasi, BMT, agribisnis atau yang lainnya. Ada juga madrasah yang memiliki keunggulan sistem hapalan. Ada  madrasah yang sangat istiqomah untuk menjaga khasanah turas. Ada madrasah yang menghapal Nadham Alfiyah Ibnu Malik. atau mungkin ada pesantren yang masih menggunakan sistem sorogan kitab, di mana kitab dipelajari secara detail, tentu ini bisa menjadi basis produk kader ulama ke depan.

Madrasah-madrasah yang demikian bisa menjadi imam/panutan bagi madrasah lain. Kalau madrasah masih teguh dan mempertahankan pola seperti ini, karena ada basic knowledge yang mereka pertahankan, itu menjadi bagus dan menjadi bagian dari diversifikasi madrasah.

Saya sering membaca hasil riset bahwa anak-anak yang biasa dilatih menghapal, ternyata hapalan tersebut berdampak pada sisi otak kiri, yakni kreativitas. Wisudawan-wisudawan terbaik di UIN Malang yang jurusannya Biologi, Matematika dan Fisika, justru ternyata hapal al-Qur’an.

Ini menjadi satu bukti bahwa ketika memorizing dilatih, maka kecerdasan lainnya akan mengikuti. Jika dikaitkan dengan pemahaman, pemahaman merupakan the second step dari transfer knowledge setelah menghapal. Ketika saya membaca literatur non-Arab yang berjudul Wahrheit und Methode yang ditulis oleh Hans-Goerg Gadamer bahwa pengatahuan seseorang sangat dipengaruhi pengetahuan sebelumnya. Kalau seseorng sudah membaca novel karya Ahmad Tohari sebelumnya seperti Lintang Kemuskus, Ronggeng Dukuh Paruh, lalu dia baca lagi novel terbarunya, maka ia akan dengan mudah mengetahui alurnya atau plot ceritanya, karena ada timbunan pengetahuan sebelumnya.

Pada tahun ini, Ditpenma memberikan apresiasi pendidikan Islam dengan tema Menyemai Diversifikasi Madrasah Par Excellence. Ada beberapa kategori madrasah yang diapresiasi. Kategori-kategori tersebut dibuat berdasarkan keunggulan-keunggulan yang ada di madrasah, yakni Madrasah Riset, Madrasah Kewirausahaan, Madrasah Vokasional, Madrasah Kegamaan dan Perpustakaan Madrasah Inspiratif.

Ditpenma terus mendorong agar madrasah-masdarah mendapat penghargaan dari Menteri Agama. Kalau di setiap titik model-model pengembangan ini bisa dilakukan secara berkesinambungan, maka madrasah akan jauh lebih baik dari sekolah biasa. Meskipun pada awalnya madrasah agak dipandang sebelah mata, namun pola diversifikasi akan menjadi pintu masuk bagi pengembangan madrasah.

Madrasah dan Entrepreneurship

Madrasah dan Entrepeneurship merupakan Tema Tembuk Nasional Tokoh Pendidikan yang diselenggarakan oleg Ditpenma pada 10-12 Desember 2013 di Bandung. Tema ini sangat sesuai dengan semangat diversifikasi madrasah.

Ada sebuah kenyataaan yang menunjukkan bahwa hanya 5-7 persen dari total 8.4 juta siswa madrasah yang melanjutkan Perguruan Tinggi (PT). Maka ada 93-95 persen yang tidak mengenyam atau melanjutkan ke PT. Alumni-alumni madrasah pada periode usia tersebut yang tidak mengeyam PT karena satu hal, maka mereka tentu akan menjadi bagain dari dunia kerja atau pasar tenaga kerja. Ketika mereka masuk di dunia kerja dan tidak dibekali dengan soft skill tentu ini akan menjadi masalah. Di sinilah dimensi kewirausaan atau entrepreneurship menjadi sangat penting.

Meskipun para alumni madrasah tidak sampai mengenyam PT namun mereka memiliki etos kerja, wawasan kewirausahaan yang sangat memadai, maka mereka akan menjadi wirausahawan yang sejati, yang tidak hanya gigih mencari uang, tetapi juga memiliki basis moralitas yang memadai. Ini merupakan sebuah kelebihan yang tidak boleh dipandang sebelah mata.

Kalau kita belajar sebuah hadis, ada hadis yang menyatakan bahwa kejayaan sebuah umat itu dikarenakan jasa para pemimpin, ilmuan, ulama, dan jasa para agniya. Agniya ini adalah mereka yang menekuni dunia wirausaha. Yang kemudian menjadi seseorang. Kalau kita menggunakan istilah Ali Bin Abi Thalib dalam Nahjul Balaghah, di sana disebutkan bahwa al-Risqu qismani rizkqun tatlubuhu wa rizqun yatlubuka. Ini adalah statemen simple tapi memiliki makna yang luar biasa. Rizki itu ada dua, rizki yang anda cari dan rizki yang mencari anda. Ini dimensinya sangat luar biasa.

Apapun pekerjaan yang kita tekuni, ketika kita statusnya masih pemula, maka kita akan masuk dalam kategori mencari rizki.  Kalau alumni-alumni madrasah tidak bisa melanjutkan ke PT dan kemudian menekuni dunia seperti usaha dagang, sebagai pemula mereka akan dikategorikan dalam rizqun tatlubuhu. Tapi kalau etos kerja dan expertise (keahlihan)  dibangun karena ia menekuni sesuatu, maka menjadi orang yang gigih berusaha secara  terus-menerus menekuni keahlian yang dimiliki. Sampai pada tingkat tertentu meraka akan masuk pada  kategori yang kedua yakni rizqun yatlubuka.

Dalam konteks ini, statemen Ali bin Abi Thalib sangat menarik, yang kemudian segera kita upayakan diversifikasi madrasah dengan cara bagaimana cakrawala dan membuka wawasan kepada alumni-alumni untuk menjadi bagian dari kategori yang kedua. Agar alumni memiliki  memiliki wawasan dan pandangan hidup ke depan yang serba optimis. Tidak masuk atau tidak melanjutkan ke jenjang PT bukan berarti kiamat bagi masa depan.

Ini menjadi sebuah tantangan agar bagaimana alumni madrasah yang tadi itu mampu memiliki wawasan yang memadai, memiliki kreativitas-kretivitas yang mampu ditumbuhkembangkan sehingga mereka menjadi bagian dari kreator peradaban di dunia usaha.

Menjadi kreator ini penting. Ada satu ungkapan menarik bahwa sumber daya itu terbatas, tetapi kreativitas tidak terbatas. Sumberdaya alam itu terbatas tetapi kretaivitas tidak mengenal batas. Yang kita dorong adalah bagaimana madrasah senantiasa menumbuhkan dan mengembangkan kreativitas.

Menumbukan kreativitas ini ada banyak caranya. Salah satunya yang menarik adalah dengan cara belajar dari success story dari seseorang. Dengan begini, akan ada perspektif lain bagi mereka tentangan tokoh sukses.

Usia-usia anak belajar di madrasah adalah fase era untuk banyak melihat keluar, diberi kesempatan untuk melihat kisah sukses orang lain. Hal ini juga selaras dengan ketika saya membaca literatur keisalaman klasik. Ketika membaca karya Muhammd Mustafa Ad-Duri yang berjudul Nasy’atul Ilmi At-Tarikh ‘indal ‘Arab. Dalam buku ini ada dua hal yang menarik. Pertama adalah pengertian tarikh atau historiografi dan madzhaz dalam penulisan sejarah. Yang dimaksud dengan kata sejarah bukanlah menceritakan masa lalu. Dalam konteks kesarjanaan muslim, menulis sejarah adalah interpreting the past. Menafsirkan yang pernah terjadi. Menulis  sejarah berarti menafsirkan peristiwa yang pernah terjadi. Kalau tadi saya mengutip Nahjul Balaghah mengenai kategori risqi, maka saat itulah saya interpreting the past.

Kedua adalah penulisan sejarah islam dengan basis naratif dengan imam Wahab bin Munabbih dan penulisan yang berbasis riwayat dengan tokohnya Imam Az-Zuhri. Dalam perjalananya, kedua model ini tetap berjalan namun yang mendominasi adalah penulisan yang berbasis riwayat.

Oleh karena itu berbicara kewirausahaan juga tidak lepas dari tradisi keislaman, kita juga menafsirkan apa yang pernah terjadi di belantika Islam dari ulama yang bisa kita baca.Kalau generasi sekarang adalah generasi yang sangat berbeda dengan generasi zaman dulu. Mereka tidak bisa dibatasi dalam mengakses informasi. Ini adalah gap generasi anatara kita dan anak-anak kita.

Jadi, jika success story beberapa tokoh ini kita sampaikan ke anak-anak madrasah khususnya tokoh-tokohwirausaha, lalu mereka akan berselancar di goolge tentang tokoh tersebut, masa saya yakin mereka akan belajar dan meniru kesuksesan mereka kita tahu bahwa anak-anak sebetulnya hanya membutuhkan keteladanan, mereka berada pada masa imitating (meniru). Dengan begitu saya rasa mereka akan menjadi generasi yang tangguh.

Oleh karena itu, pengaruh kesadaran sejarah tadi ini akan menjadi timbunan pengetahuan untuk menyusun masa depan mereka dan bahwa bisa meningkatkan wawasan dan pandangan dunai yang berbeda dari sebelumnya. Membangun kesadaran sejarah sebagai timbunan pengetahuan—dalam konteks pembelajaran wirausaha sejak di madarasah bisa berupa misalkan dengan studi visit atau PKL. Ini akan menjadi tambahan wawasan dan pandangan dunia mereka. Nah menjadi wirausahwan menjadi tambahan pengetahun untuk dideseminiasikan terkait dengan penganekaragaman madarasah.

Selain itu, kewirausahaan sebetulnya juga sangat terkait dengan bagaimana pihak madrasah mampu mempersiapkan alumninya untuk well-prepared di dunia kerja. Terkait dengan implementasi kurikulum 2013 untuk mata pelajaran Bahasa Arab, saya ingat dengan negara Philiphina. Untuk pembelajaran bahasa Arab, pemerintah Philiphina sudah mewajibkan siswa menengan pertama dan atas untuk mempelajari bahasa Arab Bisnis dan Pariwisata, yakni bahasa Arab perdagangan/pasar.

Hebatnya lulusan-lulusan dari Philiphina banyak membanjiri pasar tenaga kerja di Dubai dan Abu Dhabi. Pengisi lapangan kerja tersesar di sana adalah orang Pilipina. Bahasa Arab mereka lebih siap. Bagi mereka bahasa adalah media komunikasi. Oleh sebab itu, tim penyusun bahasa Arab harus mampu mengembangkan materi bahasa Arab. Basis pengembangan bahasa Arab bukan hanya basis keagamaan an sich, tetapi harus dirubah berdasarkan dinamika nasional dan internasional. Jadi kita lebih well-prepare. Ada tambahan yang signifikan, yakni bahasa Arab sebagai media komunikasi. Dengan begitu alumni-alumni madrasah lebih siap masuk dunia kerja.

Nur Kholis Setiawan
Direktur Pendidikan Madrasah Direktorat Pendidikan Islam Kemenag RI


Fitur News