Paradoks Kepala Madrasah

Pada dasarnya Kepala Madrasah itu adalah seorang guru. Hanya saja, Kepala Madrasah mendapat tugas tambahan untuk mempimpin penyelenggaraan pendidikan pada madrasah. 

Kepala Madrasah mempunyai tugas merencanakan, mengelola, memimpim dan mengendalikam program dan komponen penyelenggaraan pendidikan pada Madrasah berdasarkan standar nasional pendidikan.

Namun, mengingat beban tugas tambahannya ternyata melebihi tugas utamanya sebagai guru, maka sebaiknya dibalik. Yaitu, Kepala Madrasah adalah manajer madrasah yang mendapat tugas tambahan sebagai guru. Dengan demikian, ketika seorang Kepala Madrasah mencurahkan segala tenaga, waktu dan pikirannya dalam pengelolaan madrasah, dan "melupakan" tugas utama sebagai guru, maka dia terhindar dari pemberhentian sebagai Kepala Madrasah.  

Pasal 14 Peraturan Menteri Agama Nomor 24 Tahun 2014 Tentang Kepala Madrasah "mengancam" akan memberhentikan Kepala Madrasah jika dinilai berkinerja kurang. Jika seorang Kepala Madrasah menjalankan tugas utamanya sebagai guru, maka kemungkinan besar tugasnya sebagai kepala madrasah akan terbengkelai. Inilah paradoksnya, seseorang yang bersungguh-sungguh menjalankan tugas utamanya diberi sanksi karena kinerja pelaksanaan tugas tambahannya dianggap kurang.

Ibaratnya, seorang yang tugas utamanya sebagai pemandu wisata tapi mendapat tugas tambahan sebagai pengemudi bis wisatanya. Karena dia ingin menjalankan tugas utamanya, maka keberhati-hatiannya sebagai pengemudi mengendur. Alangkah berbahayanya perjalanan bis tersebut. Salah-salah bisa masuk jurang.