Guru Madrasah Perlu Meneladani Syekh Nawawi

Oleh: M. Nur Kholis Setiawan.
Bumi pertiwi pernah melahirkan ulama besar yang bernama Syekh Nawawi Al-Bantani. Ulama kelahiran Tanara Banten ini tercatat sebagai salah Imam Besar Masjidil Haram pada zamannya dan produktif dalam menulis kitab.

 

Tak heran, Syekh Nawawi lalu menjadi rujukan ilmuwan muslim dunia dan  mengilhami ulama nusantara sejak awal abad 20.

Direktur Pendidikan Madrasah M. Nur Kholis Setiawan mengajak para guru madrasah untuk meneladani penulis Kitab Tafsir Munir ini. Menurutnya, salah satu keteladanan Syekh Nawawi adalah ketawadluannya. Selain itu, sebagai penulis kitab, Syekh Nawawi juga memahami segmen pembacanya sehinga karyanya diterima luas di masyarakat.

Ketawadluan Syekh Nawawi, lanjut M. Nur Kholis, antara lain tercermin dalam ungkapannya di Muqaddimah Tafsir Munir yang mengatakan wa laisa ‘ala fi’lii maziidun wa lakin li kulli zamanin tajdiidun. “Sebenarnya, apa yang saya tulis dalam Tafsir Munir ini tidak ada yang baru. Tapi ingat walau demikian, di setiap masa pasti ada pembaharu,” ujar  M. Nur Kholis Setiawan di hadapan para Kepala Raudlatul Athfal dan Calon Kepala Madrasah MAN Insan Cendekia di Bekasi, Senin (13/06).

Nur Kholis menilai, ungkapan di atas  mereperesentasikan  kerendahan hati dan kewiraiyan Syekh Nawawi Al-Bantani. Nilai yang menurutnya perlu dimiliki oleh para guru serta kepala madrasah dalam mendidik siswa. Seberapapun tinggi prestasi siswa dan madrasah yang berhasil diraih, hal itu tidak  menjadikan para guru dan kepala madrasah menjadi sombong.

Teladan lain dari Mbah Nawawi Al Bantani menurut Nur Kholis adalah kemampuannya menjelaskan ilmu sesuai dengan segmen pembacanya. Karangan Syekh Nawawi dikenal mudah dibaca dan dipahami sehingga banyak menjadi rujukan para pencari ilmu. Sebagai pengajar, Syekh Nawawi seakan mengajarkan pentingnya guru untuk memahami alam pikiran muridnya, potensi yang mereka miliki, serta tantangan yang akan mereka hadapi.