Voreyder Di Jaur Puncak

Minggu sore Kang Bejo dan anak istri dalam perjalanan pulang dari Kebun Teh di Puncak. Lalu lintas sangat padat, bahkan bisa dibilang macet.  Mobil Kang Bejo salah satu dari ratusan mobil yang mengular mulai dari pertigaan Taman Safari. Kendaraan hanya bisa beringsut-ingsur, semeter demi semeter.

Sudah hampir sejam lamanya Kang Bejo menjadi korban kemacetan. Lumayan menguras tenaga dan emosi. Tapi apa boleh buat.

Orang kota itu memang aneh, bersedia bercapai-capai ria untuk refreshing ke daerah Puncak,hasilnya hanya kesal karena macet. 

Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara sirene. Lewat kaca spion, Kang Bejo bisa melihat ada mobil patroli polisi yang mengabil jalan sebelah kanan. Di belakangnya ada beberapa mobil yang mengikutinya yang semuanya menyalakan lampu hazard. 

"Koq gitu amat sih orang" gumam Kang Bejo dalam hati. Mbok ya ikut macet-macet. Sama-sama warga negara. Tapi kejadian mobil patroli polisi yang mengawal rombongan warga biasa sudah jamak. 

Dari dulu Kang Bejo benci sama orang yang karena punya duit terus menzalimi orang lain, yaitu dengan minta pengawal mobil patroli polisi. Padahal, jalan sedang macet. Artinya, mereka dengan kekayaan menindas orang lain.

Tapi, sekejap terjadi perubahan perilaku yang cukup drastis. Begitu, saat ekor dari iringan-iringan melintas di sebelah Kang Bejo ada kesempatan bagi Kang Bejo masuk ke dalam rombongan. 

Lupa akan kebencian terhadap perilaku iringan-iringan tersebut, Kang Bejo mengarahkan mobilnya ke kanan dan masuk ke dalam iring-iringan. 

Kang Bejo ternyata menikmati menjadi orang yang selama ini dibencinya. Dengan jumawanya Kang Bejo melarikan mobilnya di jalur kanan mengikuti rombongan. 'Enak juga ya' batin Kang Bejo.  

Ternyata, kekuasaan, penindasan, kejumawaan bisa berbanding lurus dengan kenikmatan meski harus menindas orang lain.