Bukan Rejekinya

Pukul empat sore di perempatan Pejompongan Jakarta Pusat. Lampu lalu lintas dalam kondisi merah. Mobil Kang Bejo berada di antara antrian kendaraan di perempatan jalan tersebut.

 

Yu Bejo yang duduk di samping Bejo menyiapkan selembar uang ribuah untuk diberikan kepada seorang pengemis. Pengemis itu berjalan dari depan mobil Kang Bejo dan mengarah kesitu.

Yu Bejo menunggu pengemis itu berhenti di samping mobil. Yu Bejo memang belum membuka kaca jendela. Dia akan membuka kaca jendela manakala pengemis sudah berhenti di samping mobil.

Jari Yu Bejo sudah menyentuh tombol power window dan bersiap-siap membuka kaca jendela. Pengemis itu tinggal selangkah lagi sampai di samping jendela kiri depan mobil Kang Bejo. 

Ketika pengemis tepat di samping kiri pintu kiri depan, Yu Bejo menekan tombol power window untuk membuka kaca jendala. Saat jendela terbuka sekitar lima senti, pengemis tidak berhenti. Pengemis jalan terus melewati mobil Kang Bejo menuju mobil yang antre di belakang mobil Kang Bejo. 

Sambil menaikkan kaca jendela yang sempat terbuka sedikit, Yu Bejo bergumam pendek "Bukan rejekinya". Kang Bejo mengiyakan gumaman sang istri, sambil menatap melalui kaca spion pengemis itu berjalan ke belakang. 

Kang Bejo hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Penumpang mobil di belakang Kang Bejo ternyata memberi pengemis itu selembar lima ribuan.

Kang Bejo mereka-reka mengapa pengemis tadi melewatinya dan menuju ke mobil di belakangnya. Apakah penumpang di mobil itu membuka kaca jendela dan melambai-lambaikan selembar lima ribuan kepada pengemis. Rasanya tidak mungkin. Apakah pengemis menduga bahwa penumpang di mobil Kang Bejo tidak akan memberinya uang, sehingga mendingan dia melewatinya? Rasanya kemungkinan ini juga mustahil, karena mobil Kang Bejo tergolong mobil mewah. Atau, dia punya semacam standard operation procedur dalam memilih mobil mana yang akan dimintai sumbangan? Entahlah.

Yang pasti, sesaat setelah pengemis menerima sumbangan dari penumpang mobil di belakang mobil Kang Bejo, lampu lalu lintas sudah berwarna hijau. Itu berarti pengemis harus menyingkir ke pinggir atau ke pembatas jalan. 

Lagi-lagi sebuah peristiwa yang sangat sederhana tetapi mengandung dimensi tarekat yang menukik. Sebuah peristiwa yang sama sekali sepele. Bukan peristiwa yang spektakuler dan dramatis. Sebuah peristiwa yang secara visual hanya merupakan satu di antara milyaran kejadian yang terjadi setiap detik di dunia. 

Kang Bejo tertohok dengan kejadian tersebut karena terkait dengan sepatah gumaman Yu Bejo sebelumnya, yaitu "bukan rejekinya". 

Manusia yang pengetahuannya sebatas detik ini sering merasa tahu tentang kehidupan. Manusia sering sok tahu dan sering memastikan sesuatu padahal sama sekali tidak mempunyai pengetahuan apapun. 

Ketika Yu Bejo bergumam "bukan rejekinya", Kang Bejo berkeyakinan bahwa pengemis itu "kehilangan" seribu rupiah karena tidak mendapatkan sumbangan yang sudah disiapkan oleh Yu Bejo sebesar seribu rupiah. Kang Bejo meyakini bahwa rejeki yang sudah di depan mata, tinggal diambil bisa sirna. 

Keyakinan Kang Bejo di atas berantakan sesaat setelah menyaksikan pengemis itu mendapatkan selembar lima ribuan. Ternyata pengemis tidak "kehilangan" tetapi mendapatkan lebih dari itu. 

Seandainya pengemis tadi berhenti di sebelah mobil mobil Kang Bejo dia memang akan mendapatkan seribu rupiah tetapi kehilangan kesempatan mendapatkan lima ribu rupiah. Karena lampu lalu lintas keburu berubah hijau, dan berarti pengemis harus menyingkir.

Kang Bejo hanya mampu bertafakur. Ya Allah, Engkau memang Maha Pengatur dengan tingkat pengaturan yang berpresisi tinggi. Engkau memang berhak sepenuhnya terhadap rejeki yang Engkau tebarkan kepada manusia. Betapa manusia tidak akan pernah mampu memahami mekanismeMu dalam mendistribusikan rejekiMu.

Distribusi rejeki pastilah berdasarkan asas keadilan versi Allah. Versi yang dijamin seratus persen keakuratan dan sahih.

Siapa atau apa yang menggerakkan hati pengemis agar melewati mobil Kang Bejo dan menuju mobil di belakangnya? Entahlah!