Salesman

Pukul 9 pagi Kang Bejo masih berkebun di halaman samping rumah. Kegiatan ini rutin dilakukan, dimulai pukul 6. Lumayan terasa melelahkan setelah 3 jam berkutat dengan aneka pemeliharaan tanaman hias.

Ketika mau bersiap-siap mengakhiri kegiatannya, Kang Bejo mendengar suara permisi dari pintu pagar. 

Di depan pintu pagar berdiri dua orang pemuda usia sekitar 23 tahun. Yang satu mengenakan kemeja putih agak lusuh. Sepatunya terlihat tidak pernah disemir. Yang kedua mengenakan pakaian yang tidak lebih baik dari temannya.

Dengan apriori, Kang Bejo menanyakan maksud kedatangannya. Ternyata kedua pemuda itu adalah tenaga penjualan (sales) dari perusahaan peralatan mesin semprot bertekanan tinggi. Peralatan ini bisa digunakan untuk mencuci mobil, karpet, sofa, lantai garasi dan lain-lain. 

Ini sudah kesekian kalinya sales datang ke rumah dan menawarkan peralatan sejenis. Dengan kelelahan yang dirasakan, melayani kedua sales ini akan menambah kelelahan, padahal Kang Bejo akan mandi dan segera rebahan di tempat tidur. 

Kang Bejo sudah membayangkan betapa nikmatnya setelah mandi, minum teh manis, rebahan di tempat tidur sambil baca koran.

Kang Bejo menolak kedatangan sales tersebut. Kedua sales tidak menyerah begitu saja. Jurus ampuh yang digunakan adalah bahwa mereka hanya perlu kesediaan tuan rumah untuk demo pemakaian peralatan tersebut. Bahwa demo itu bagi mereka adalah plus poin dalam penilaian kinerja mereka di perusahaan. 

Permohonan demo ini disampaikan dengan kata akhir bahwa ini kesempatan ini agar dia masih bisa terus bekerja di perusahaan itu.

Kang Bejo sudah hapal dengan jurus ini, karena sales-sales sebelumnya juga mengatakan demikian. Kang Bejo tetap menolak permintaan mereka. Dan berharap mereka segera berlalu.

Sejurus kemudian terlihat raut wajah mereka meredup menandakan kekecewaan yang mendalam. Sejurus itu pula raut wajah itu tertangkap oleh pandangan Kang Bejo.

Kang Bejo tersadar. Betapa beku hatinya apabila tidak meluluskan permintaan mereka yang hanya meminta kesediaannya menyaksikan demo peralatan. Betapa tidak bersyukurnya apabila dengan nikmat yang dianugerahkan menjadi tidak peka terhadap sesama. Betapa pelitnya apabila yang diminta hanyalah waktu yang hanya sekitar 30 menit. Apa susahnya menunda kenikmatan yang sudah dibayangkan sebelumnya. Toh kenikmatan itupun sebenarnya karena kasih sayang Allah. 

Mereka itu susah payah berkeliling komplek untuk menjajagan barang dagangan yang tidak mudah dijual. Langkah pertama mereka adalah memang meminta kesediaan sasaran untuk di-demo-i peralatannya. 

Akhirnya, Kang Bejo mempersilahkan mereka melakukan demo peralatan dengan mencuci mobil.