Gerobak Pemulung

Di depan rumah Kang Bejo ada sebidang tanah yang cukup luas. Di dalamnya terdapat pohon mangga yang besar. Hampir setiap hari beberapa gerobak pemulung parkir di bawah pohon tersebut. Para pemulung kemudian meninggalkan gerobak-gerobak tersebut.

Mereka memulung barang bekas dengan menggunakan kantong plastik besar yang panggulnya. Sore hari pemulung kembali ke gerobaknya dan memuat hasil pulunganya kedalamnya. Begitu setiap harinya.

Setiap Kang Bejo keluar rumah, gerobak-gerobak kumal tersebut terlihat nyata. Lingkungan jadi terkesan kumuh. Rumah Kang Bejo relatif megah di antara rumah-rumah di sekitarnya. Dengan halaman yang luas, di garasinya parkir sedan tahun 2000. Merasa termasuk golongan menengah ke atas, pemandangan gerobak-gerobak pemulung kadang-kadang mengusik pikirannya. Tidak bisa dibiarkan berlanjut.

Ada beberapa cara yang bisa ditempuh. Lapor ke RT untuk memindahkan tempat parkir gerobaknya dengan alasan keamanan dan keindahan lingkungan. Cara kedua, menyemen area di bawah pohon mangga agar para pemulung sungkan memarkirkan gerobaknya. Atau, sedikit bersusah payah yaitu setiap hari sebelum para pemulung datang, Kang Bejo akan memarkirkan mobilnya di bawah pohon mangga.

Berhari-hari Kang Bejo memikirkan cara yang akan ditempuhnya. Ada cara lain yang dianggap lebih elegan, yaitu selain menyemen area 'parkir gerobak' ditambah lagi dengan menempatkan ayunan sehingga terkesan Kang Bejo berjiwa sosial. Cara ini digagalkan sendiri karena niatnya bukan sosial, tapi ingin mengusir para pemulung.

Berangkat dari gugatan terhadap niat mengusir para pemulung. Pikiran Kang Bejo justru dihadapkan pada gugatan terhadap hak Kang Bejo untuk mencegah para pemulung memarkir gerobak di depan rumahnya.Apa hak Kang Bejo terhadap sebidang tanah di depannya? Tanah itu bukan miliknya. Apa Kang Bejo punya privellege untuk mengusir mereka? Apakah keindahan lingkungan terganggu dengan kehadiran mereka?. Ada satu yang paling mengusik Kang Bejo. Ini kan bumi Allah, rumah yang dia diami sekarang ini hanya numpang di tanahnya Allah.

Ah, biarkan sajalah para pemulung itu mencari nafkah di bumi Allah. Bukannya membantu mereka keluar dari kemiskinan, malah akan menzalimi mereka. Alangkah berdosanya dia. (ISN)