Missed Call Vs Adzan

Dering telepon seluler membuyarkan kekhusukan sholat Kang Bejo. Saat itu, dia sedang menunggu telepon dari sekretaris direktur sebuah BUMN yang akan mengabari kapan dan dimana pertemuan dengan direktur akan dilaksanakan.

Kang Bejo sudah hampir seminggu menunggu kesempatan itu untuk mendiskusikan proposal bisnis yang diajukan ke BUMN tersebut. Secara prinsip, proposal tersebut mempunyai peluang untuk ditindaklanjuti.

 Nah, dering telepon itulah yang 'dicurigai' sebagai dering telepon dari sekretaris. Kalau dibiarkan menjadi 'missed call', dikhawatirkan akan berdampak batalnya rencana pertemuan. Maklum, sekretaris direktur BUMN pastilah sangat sibuk. Sehingga, ketika dia tidak mendapat jawaban dari Kang Bejo, dia tidak akan menelpon lagi. Betapa sulitnya telepon berhasil masuk ke kantor BUMN tersebut, sementara dia belum punya nomor telepon seluler si sekretaris.

 Karena panggilan pertama 'missed call', disusul bunyi dering telepon berikutnya. Pikiran Kang Bejo makin kacau. Sholat mau diteruskan atau dibatalkan. Kalau diteruskan, ya itu tadi bisa berdampak serius karena rencana pertemuan bisa batal. Kalau dibatalkan, apa iya itu bukan artinya menyepelekan Allah. Kan itu berarti lebih mementingkan manusia daripada Sang Khalik. Alangkah tidak sopannya ketika sedang 'ngobrol' dengan Allah, tiba-tiba 'ngacir' meninggalkanNya. Alangkah tidak beradabnya kalau menomorduakan Allah. Dering telepon itupun belum tentu dari si sekretaris, jangan hanya panggilan biasa. Atau bahkan salah sambung.

 Astaghfirullah terlafazkan oleh Kang Bejo dalam hati mengintervensi aneka analisa terhadap dering telepon tersebut, dan kembali berusaha meluruskan konsentrasi menggapai kekhusukan sholat.

 Sebabis salam akhir, Kang Bejo mengucapkan istighfar puluhan kali untuk memohon ampunanNya. Kang Bejo merasa bersalah.  Buyarnya konsentrasi ini tidak dia rasakan manakala dia sedang meeting terdengar suara adzan. Perasaannya biasa-biasa saja. Tidak gelisah, tidak merasa terburu-buru, tenang-tenang saja. Saat mendengar Adzan, Kang Bejo tidak kemudian gelisah untuk segera meninggalkan urusan dunia dan berniat melaksanakan shalat. Ada saja alasan untuk tidak segera shalat, dari sekedar malas atau "toh masih ada waktu",  sampai yang dianggap serius seperti "jika pekerjaan tidak selesai sekarang bisa berakibat fatal".

 Namun, Kang Bejo mengucap Alhamdulillah ketika ternyata 'missed call' tadi bukan dari sekretaris BUMN. Kalau toh dari sekretaris, biar sajalah. Toh, dia bisa telepon balik walaupun pasti susah. Kalau memang Allah menghendaki proposal bisnisnya untuk Kang Bejo, pastilah Allah memberikan jalan yang terbaiknya. Atau apabila 'missed call itu dari sekretaris, dan Kang Bejo gagal menghubungi balik dan berakibat gagalnya pertemuan dengan direktur BUMN, itu harus disikapi bahwa itulah yang terbaik buat Kang Bejo. Pengetahuan manusia hanya sebatas pada 'detik ini'. Sepersekian milyar detik kemudian, manusia tidak akan pernah bisa memastikan apa yang bakal terjadi secara pasti. (ISN)