Kang Bejo Menawar Shalat

Kang Bejo hari itu ada meeting di Yogyakarta, berangkat dengan pesawat pukul 6 pagi. Dari rumahnya ke bandara Soekarno-Hatta memerlukan waktu 2 hingga 2.5 jam, sehingga Kang Bejo sudah harus bangun pukul 3 dini hari.

Sesampai di Yogyakarta, Kang Bejo sudah ditunggu oleh rapat yang cukup melelahkan fisik dan mental. Pukul 3 sore Kang Bejo sudah meluncur ke Bandara Adi Sucipto untuk kembali ke Jakarta. Alhasil, dia tidak sempat istirahat barang sejenak pun.

Pukul 5 sore Kang Bejo mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Dia tidak langsung ke rumah, tapi harus ke kantor dulu. Ada proposal perijinan yang harus dia bahas bersama tim malam itu. Besuk proposal itu sudah harus diserahkan ke Instansi Pemerintah.

Usai menyelesaikan proposal pada pukul 1 dini hari, Kang Bejo pulang ke rumah. Tiba di rumah sudah pukul 1.30 dini hari. Badan terasa letih sekali.

Badan Kang Bejo benar-benar letih, dengan usia yang terbilang tidak muda lagi, stamina Kang Bejo mudah merosot. Mata juga terasa mengantuk sekali. Kang Bejo melepas lelah sejenak di sofa ruang tengah. Dia belum mengerjakan shalat Isya'. Rasanya berat sekai untuk mengerjakannya.

Hatinya berbisik, 'Ya Allah boleh tidak aku tidak mengerjakan shalat Isya'. 'Bukan karena aku membangkang perintahMu Ya Allah, ini semata-mata karena badanku benar-benar tidak berdaya'. 'Toh, Engkau juga sudah pasti tahu persis bagaimana kondisi badanku' Kang Bejo melanjutkan rajukan kepadaNya.'Masak sih nggak boleh, Ya Allah'. Kang Bejo mencoba terus beragumentasi.

Kang Bejo membiarkan pikirannya menjalar kemana-mana dulu. Kang Bejo banyak menemukan 'pembenaran' terhadap kemalasan mengerjakan shalat. Mulai dari "sesekali kan boleh", "masak sih Allah tidak mengerti kondisi badanya yang amat sangat letih", sampai "Allah kan Maha Penyayang, pasti membolehkan".

Akhirnya, Kang Bejo merasa 'menemukan' jawaban dari Allah. Kang Bejo diingatkan oleh kesadaran bahwa dia sekarang dalam keadaan sehat wal'afiat, hanya saja saat ini badannya benar-benar letih. Letih bukanlah sakit. Masak hanya karena letih terus memalingkannya dari ibadah kepadaNya. Bagaimana nanti kalau tubuhnya sakit. Bagaimana nanti kalau kesehatannya mulai diambil olehNya. Akan makin malas menghadap Dia dengan alasan sakit. Baru segini saja sudah mengajukan keringanan dalam beribadah, yang sebenarnya tidak berat-berat amat.

Kang Bejo akhirnya bangkit dari sofa menuju kamar mandi dan mandi air hangat. Betapa siraman air dari shower mampu menyegarkan badan, dan kalbu pun mulai tercerahkan.

Tepat lonceng jam berbunyi dua kali yang menandakan hari sudah pukul 2 dini hari, Kang Bejo mengucapkan takbirotul ikhram rakaat pertama shalat Isya'. (ISN)