Ulat

Dua bulan setelah 'insiden'ulat yaitu ketika Kang Bejo mengurungkan niatnya membuang ulat dari pohon kamboja, Kang Bejo berniat berkebun lagi.  Ajaib!. Pohon kamboja yang dua bulan lalu gundul, habis daunnya karena dimakan ulat, kini mulai bertunas. Walaupun masih masih sangat kecil tunasnya, namun tanda-tanda kehidupan mulai menyeruak.

Kang Bejo memandangi pohon itu dengan seksama. Dua bulan lalu, ulat telah menghabiskan daun pohon kamboja hingga tinggal batangnya. Ternyata, selama dua bulan ini pohon tersebut memproses elemen kehidupannya sehingga mampu meregerasi dan melanjutkan proses kehidupannya. Selama dua bulan ini, pohon tersebut mampu merespon tabiat alam semesta secara arif, yaitu rela memberikan yang terbaik untuk keberlangsungan hidup makhluk lain.

Kang Bejo makin takjub ketika memandang ke pohon di sebelahnya dimana dulu dia meletakkan ulat yang semula akan dibuangnya ke tempat sampah. Tidak ada satupun daun yang dimakan oleh ulat. Dan ulatpun sudah tidak ada, pastilah sudah menjadi kupu-kupu dan terbang entah kemana.

Apa yang membuat Kang Bejo takjub adalah bahwa alam semesta punya takaran dengan presisi tinggi agar keseimbangannya berjalan dalam harmoni. Ketika ulat sudah cukup makan, maka di akan segera bermetamorfosa menjadi kupu, tidak pernah kemudian berlama-lama menjadi ulat yang akan memakan dedauan. Dengan takaran tersebut, maka pohon kamboja terjaga dari kepunahan, ulat dapat melanjutkan etape kehidupannya, dan kupu-kupu 'tercipta' untuk menyerbuk bunga-bunga.

Begitulah harmoni orkestra alam semesta di bawah dirijen Sang Maha Pengatur.