Wanita terdahulu adalah sosok wanita inspiratif bagi wanita zaman sekarang. Tak lain halnya, hampir tak ada perbedaan antara 2 zaman. Yang membedakannya hanyalah waktu dan dari sudut pandang permasalahan.

Tidak banyak ahli sejarah yang mengulas pahlawan atau public figur dari kalangan wanita. Entah karena bias gender atau memang sedikitnya peran para perempuan mulia yang secara gagah berani tampil menampakkan dirinya dihadapan publik. Terkait  masalah pahlawan-pahlawan wanita, Rasulullah pernah beberapa kali menjelaskan kepada para sahabatnya tentang wanita  pilihan  Allah, baik didunia maupun di akherat. Nama-nama seperti  Khadijah istri pertama Nabi, Aisyah binti  Abu Bakar Siddiq, dan Fatimah putri Nabi merupakan wanita-wanita pilihan  yang sering  di idolakan Nabi dan dijadikan sebagai   tauladan inspiratif.

Dan yang terlupakan diantaranya adalah , Asiyah istri Fir’aun dan Maryam Ibu Nabi Isya adalah seorang wanita  yang sangat fenomenal.

Khadijah binti  Khawalid termasuk wanita super dan istimewa. Pemimpin wanita di alam semesta di masanya dan dijuluki “Wanita yang suci.” Dia adalah seorang wanita yang cerdas lagi mulia serta memiliki sopan santun yang tinggi. Dia seorang wanita yang kaya raya.

Khadijah adalah manusia pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya sekaligus orang yang pertama masuk Islam. Istri yang tercinta dan beriman tersebut berdiri di sisi Nabi Muhammad SAW sang suami tercinta, untuk memberika pembelaan dan bantuan. Menolongnya dalam menghadapi siksaan dan gangguan yang sangat bengis.

Sitti Aisyah, dia adalah pengajar kaum laki-laki. Wanita yang jujur, anak dari sahabat paling berpengaruh ini memiliki banyak keistimewaan yang telah dicatat  sejarah, khalifah Rasulullah, Abu Bakar Siddiq.  Dia adalah wanita yang namanya dibersihkan dari tujuh lapis langit. Sebagai wanita biasa yang menjalani  kehidupan rumah tangga dengan Rasulullah. Beliau  menuai banyak   lika-liku yang kerap dihadapinya. Cemburu, fitnah dan ancaman yang  sering kali beliau rasakan menjadikan  Aisyah terbiasa sabar dan kuat menghadapi  segala aral melintang.  Aisyah memiliki kelebihan yang tidak dimiliki wanita-wanita di dunia ini, bahkan oleh istri-istri nabi sekalipun.

Fatimah zahra binti Rasulullah, Dia menjadi teladan yang mengagumkan dan contoh paling tinggi bagi kita. Dia menjadi teladan sebagai istri salihah dan bersabar dalam kehidupan yang sulit. Beliau merupakan teladan yang tinggi dalam berhubungan yang baik dengan para tetangga dan kerabat. Fatimah  adalah potret wanita  sederhana, sabar dan pemberani, beliau merupakan  satu-satunya perempuan yang tidak pernah meninggalkan kewajiban salat fardu dan puasa ramadan disamping sunnah-sunnah lainnya.

Berbeda dengan wanita biasa yang mengalami masa Haid, Fatimah tidak pernah mengalami masa haid sehingga dalam kehidupannya beliau tidak pernah absen melakukan kewajiban-kewajiban agamanya (kelainan ini “Tidak haid” bukan karena penyakit, melainkan mukjizat Nabi). Keistimewaan ini menjadikan  Rasulullah  memberikan gelar khusus pada Fatimah yaitu  al-batul (salah satu maknanya adalah orang suci).

Maryam ibu Nabi Isya adalah seorang wanita  yang sangat fenomenal, nama beliau telah diabadikan sebagai nama surat Alqur’an. Kisah-kisah Maryam pun sering di ulang-ulang dalam beberapa surat yang berbeda.

Wanita, sosok lemah dan tak berdaya yang terbayangkan. Dengan lemahnya fisik, Allah tidak membebankan tanggung jawab nafkah di pundak wanita, memberi banyak keringanan dalam ibadah dan perkara lainnya. Mereka adalah sosok yang mudah mengeluh dan tidak tahan dengan beban yang menghimpitnya. Dengan kebengkokannya sehingga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk bersikap lembut dan banyak mewasiatkan agar bersikap baik kepadanya.  Oleh karena itu, tidak mengherankan kiranya jika Allah  Ta’ala dengan segala hikmah-Nya mengamanahkan kaum wanita kepada kaum laki-laki.

Namun, kelemahan itu tak harus melunturkan keteguhan iman. Sebagaimana keteguhan salah seorang putri, istri dari seorang suami yang menjadi musuh Allah Rabb alam semesta. Seorang suami yang angkuh atas kekuasaan yang ada di tangannya, yang dusta lagi kufur kepada Rabbnya. Putri yang akhirnya harus disiksa oleh tangan suaminya sendiri, yang disiksa karena keimanannya kepada Allah Dzat Yang Maha Tinggi. Dialah Asiyah binti Muzahim, istri Fir’aun.

(Sumber: http://www.kompasiana.com)

 


Fitur News