Nunuk, "Kartini" yang Bebaskan 2.000 Warga dari Buta Huruf

Ada 2 ribu ibu di Dusun Santren, Desa Banjarwoto, Kecamatan Bangilan, Tuban, yang serius belajar mengeja kata-kata.  Bunyi kata yang keluar dari bibir para wanita lanjut usia itu terdengar patah-patah.

Sang guru, seorang perempuan muda, tersenyum. Dia paham betul, lidah para siswa sudah agak kaku.

Ibu guru berbaju putih itu beberapa kali mengulangi, hingga suara ejaan para siswa terdengar fasih. Nunuk Fauziyah, nama guru muda itu.

“Saya merasa terpanggil untuk berproses dengan ibu-ibu dan masyarakat,” ujarnya usai mengajar.

Ibu-ibu di Dusun Santren, sekitar satu jam perjalanan dari pusat Kota Tuban, itu hanya sebagian kecil dari lansia yang dilayani Nunuk Fauziyah dan para relawan lainnya.

Kelompok-kelompok belajar lainnya tersebar di desa-desa terpencil di sejumlah kecamatan. Ada yang di atas bukit, namun ada pula yang terpencil di pinggir hutan. Semuanya digelar dengan gratis.

Selama sembilan tahun sarjana dari Universitas Ronggolawe ini keliling mengunjungi mereka. Seharian, Surya membuntuti kegiatan perempuan pengobar semangat RA Kartini itu.

Pagi pukul 07.00 WIB, Nunuk telah meninggalkan rumahnya di Kota Tuban. Butuh waktu satu hingga satu setengah jam untuk sampai di Gedung PAUD di Dusun Santren, Desa Banjarworo, Bangilan.

Inilah gedung yang didirikan bersama teman-temannya pada 2009. Lahan di atas gedung itu dibeli sekitar Rp 60 juta dari uang yang disisikan para volunteer yang tergabung dalam Koalisi Perempuan Ronggolawe (KPR).

Ada 43 anak yang belajar di sini. 

Tapi, ini bukan satu-satunya fokus kegiatan. Ada kelompok belajar yang menunggunya, di sebuah rumah tak jauh dari PAUD. Nah di rumah itulah, 20 orang ibu lansia biasa belajar membaca dan menulis.

Nunuk bersama aktivis KPR memberantas buta aksara sejak 2009. Dari sembilan warga yang menghuni sembilan kecamatan di Tuban, lebih dari 2.000 warga pernah dididik volunter KPR.

Kecamatan itu, antara lain Semanding, Palang, Merakurak, Kerek, Kenduruan, Jenu, Bangilan, Senori, dan Gerabakan.

“Dari data itu, 80 persen warga buta aksara,” tegasnya.

Nunuk Fauziyah mengaku gembira, para lansia di Dusun Santren, Desa Banjarwoto, Kecamatan Bangilan, Tuban mau belajar membaca, meski sudah kelewat umur. Apalagi, mereka mayoritas pekerja pengangkut batu kapur.

Istri Sulamul Hadi ini tak berhenti berjuang bersama teman-temannya memberdayakan kaum perempuan di sana.

(Sumber: http://regional.kompas.com