Upaya Membumikan Ilmu Fisika

Kalau ada ahli fisika di Tanah Air yang galau dan tidak berhenti dengan invensi dan inovasi, Dr Muhammad Nur DEA adalah salah satunya.

Hingga kini, pengajar Fisika pada Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah, ini terus mendorong mahasiswa dan lulusan Fisika di semua universitas di Tanah Air agar tak berhenti berinovasi. 

Bagi Nur, panggilannya, Indonesia adalah negeri yang kaya alamnya, juga sumber daya manusia, termasuk di bidang fisika. Sayangnya, para ahli fisika di negeri ini belum mandiri seperti di negara lain. Padahal, berbagai penelitian itu bisa meningkatkan kemandirian bangsa.

Selama ini berbagai penelitian yang dihasilkan selalu berhenti di perpustakaan, bahkan banyak teknologi baru yang ditemukan sulit untuk lolos dan diakui menjadi karya anak bangsa. Hampir semua invensi dan inovasi anak bangsa berakhir di ”lembah kematian teknologi”.

Dekan Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro (Undip) ini menilai, minimnya minat mahasiswa terhadap ilmu fisika karena fisika merupakan salah satu pelajaran yang agak susah dipahami siswa SMA. Jadi, saat mereka masuk perguruan tinggi, hanya siswa yang punya ketertarikan khusus dengan fisika yang memilih jurusan ini.

”Sebagian besar masyarakat kita juga belum melihat bahwa ahli fisika merupakan profesi yang menarik bagi anak mereka. Pada gilirannya akan memberikan sumbangan berarti bagi bangsa, terutama untuk keterbebasan dalam sains dan teknologi,” papar Nur.

Kenyataan inilah yang membuat Nur tak berhenti mengembangkan ilmu fisika. Sejak 2001 hingga 2007, ia dipercaya sebagai Kepala Pusat Pengembangan dan Penerapan Teknologi, Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat, Undip.

Salah satu terobosan yang dilakukannya adalah menjalin kerja sama dengan Swisscontact dan Bank Pembangunan Asia (ADB) dalam pembinaan Business Development Services (BDS) di Jawa Tengah. Dari sini, ide pengembangan kluster industri mulai dikenal kalangan kampus dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Nur juga pernah terlibat dalam Management Innovation & Technology, bekerja sama dengan Uni Eropa dan Ristek.

Wirausaha baru

Pada 2006 Nur mendirikan Inkubator Wirausaha Baru (Inwub) Plasma Tech sebagai embrio perusahaan berbasis teknologi plasma. Inwub melakukan kegiatan di LPM Undip di bawah koordinasi Pusat Pengembangan dan Penerapan Teknologi serta mendapat bimbingan dari semua pengambil kebijakan terkait.

Pada tahun yang sama, ia mendirikan CV Plasmatech, perusahaan yang berbasis teknologi plasma. Perusahaan ini, bagi Nur, untuk menjawab kerinduannya agar hasil inovasi perguruan tinggi bisa diteruskan, sampai diterima masyarakat. Kebetulan ada alumni bimbingannya di bidang plasma yang bersedia bersama-sama merintis perusahaan tersebut.

”Kami mencoba sekuat tenaga untuk menghidupkan usaha tersebut. Inilah spin off pertama dari laboratorium kami. Walaupun berat, kami bisa memperkenalkan teknologi plasma untuk berbagai aplikasi yang dapat digunakan masyarakat,” paparnya.

Inkubator wirausaha baru itu berawal dari program Unit Usaha Jasa Industri (U-UJI) Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi yang dibiayai tahun 2007-2010. Nur dan kawan-kawan mendapat hibah dari U-UJI agar terjadi percepatan pengembangan budaya kewirausahaan di perguruan tinggi yang berbasis hasil penelitian.

Melalui program tersebut, ia bersama empat dosen lain dan alumni mendorong perbaikan kualitas beberapa produk berbasis teknologi plasma. Pada 2009, Unit UJI yang diketuai Nur menjadi PT Dipo Technology.

”Ini merupakan spin off kedua dari laboratorium kami. Produknya adalah hasil penelitian kami di bidang plasma. Misalnya, plasma untuk pengayaan nitrogen pada pupuk, pemercepat tumbuh calon tanaman, aplikasi ozon, dan pembersih udara berteknologi plasma. PT Dipo Technology dikelola alumni,” kata Nur yang tertarik fisika sejak di bangku SMA.

Aplikasi radiasi

Kreativitas, invensi, dan inovasi Nur tak berhenti di sini. Pada 1999, dia mendirikan Pusat Aplikasi Radiasi dan Rekayasa Bahan (Pussaran) Lembaga Penelitian Undip. Unit ini didirikan untuk mengumpulkan para ahli yang memanfaatkan aplikasi radiasi.

Misalnya, teknologi mengayakan pakan konsentrat sapi dan nitrogen dengan teknik radiasi ion nitrogen. Konsentrat pakan sapi ini dapat dimanfaatkan para peternak.

Pussaran juga memperkaya pupuk organik dengan bahan dasar tandan kelapa sawit (bekerja sama dengan Pusat Penelitian Kelapa Sawit di Medan, Sumatera Utara), dengan radiasi ion nitrogen.

”Aplikasi di bidang medis juga sangat banyak. Kalau kita mau maju, para ahli harus bersinergi. Itulah harapannya. Saya juga belum puas dengan apa yang kami hasilkan. Meski demikian, ada semangat yang terus membara di kalangan teman-teman,” ujarnya.

Nur bercerita, ketertarikannya mengembangkan aplikasi plasma yang dapat diterapkan pada industri berawal dari keterbatasan fasilitas di universitas. Tentang kurangnya penghargaan atas karya-karya inovatif anak bangsa, menurut Nur, kembali pada kebijakan pemerintah. Selama ini para periset harus berjuang keras agar penelitiannya dapat diaplikasikan di tengah masyarakat.

Kendati penghargaan pemerintah yang diberikan terhadap periset masih jauh dari harapan, Nur bertekad tetap menjadi dosen dan peneliti. Ia akan terus mendidik kader-kader bangsa di bidang fisika dengan standar internasional.

”Saya ingin berkontribusi melahirkan perusahaan-perusahaan yang berbasis teknologi baru dan sukses. Perusahaan yang dijalankan anak- anak muda kita. Saya ingin melihat kampus-kampus terbaik dan lembaga penelitian kita menjadi ukuran untuk inovasi dan dibutuhkan masyarakat,” katanya.

Nur hanya bisa berharap, suatu saat nanti, invensi dan inovasi perguruan tinggi tidak lagi harus masuk dalam ”lembah kematian teknologi”.

”Kita butuh keterbebasan dari ketergantungan sains dan teknologi dari bangsa lain,” kata Nur menegaskan.

(Sumber: http://sains.kompas.com)