Metode “Acting” dalam Pembelajaran Kimia

Oleh: Cita Indira (Guru SMAN 4 Sampit)

I. Latar Belakang

Saya seorang tenaga pendidik yang dalam kesehariannya mengajar kimia di SMA Negeri 4 Sampit.Sekolah ini terletak kira-kira 5,5 kilo meter dari kota Sampit.

Tempatnya sangat mendukung kegiatan proses permbelajaran karena suasananya tidak bising, sejuk, nyaman dan kodisi keadaan alamnya masih alami hijau dengan banyaknya tumbuhan karamunting yang tumbuh disekitar sekolah. Disamping itu juga didukung adanya asrama bagi siswa yang berprestasi dan tidak mampu dan fasilitas sarana lapangan olahraga yang memadai, sehingga sangat menguntungkan sebagai tempat mengembangkan potensi dan bakat siswa agar berkembang secara optimal. 

Potensi siswa cenderung dan lebih dominan dibidang olahraga dan seni, tertapi saya tidak berputus harap ingin mengimbangi potensi tersebut dengan bidang akademik. Idealnya minat siswa untuk masuk jurusan IPA tinggi namun pada kenyataannya saya sering mendengar keluhan sebagian besar siswa yang mengatakan “Chemistry is difficult.” Dalam pembelajaran kimia siswa kurang semangat dan kurang terlibat aktif dalam pembelajaran, mereka lebih senang ngobrol dengan temannya atau asyik dengan kegiatannya sendiri daripada memperhatikan apa yang dijelaskan oleh guru. Dengan kondisi seperti ini saya merasa bahwa rendahnya keafktifan siswa antara lain mereka kurang termotivasi dalam pembelajaran, hanya menerima apa yang dijelaskan oleh guru, teacher centered yang bersifat satu arah, dan suasana pembelajaran yang kurang nyaman sehingga siswa kurang terlibat aktif dalam mengikuti pembelajaran. Rendahnya keaktifan siswa karena kurang tertariknya mereka terhadap metode pembelajaran disebabkan kurangnya referensi guru dalam menemukan metode pembelajaran yang efektif dan menarik. 

Saya menyadari kenyataan seperti ini merupakan suatu tantangan “Bagaimana membuat pembelajaran kimia menjadi menarik” menuntut kreativitas guru mencari strategi atau solusi untuk mengubah anggapan itu menjadi “Chemistry is easy”. Salah satu upaya yang saya lakukan adalah dengan menerapkan metode pembelajaran “Acting.” 

II. Permasalahan

Untuk meningkatkan keaktifan siswa dengan suasana yang nyaman dan tidak tegang saya menggunakan berbagai metode, hal itu memotivasi saya untuk menumbuhkan daya kreativitas sebagai guru, sehingga terbentuklah suatu inovasi pembelajaran. Hal yang perlu dikaji kembali, yaitu “Bagaimana meningkatkan Keaktifan Belajar Kimia Siswa SMA Negeri 4 Sampit Melalui Metode Pembelajaran Acting”

III. Pelaksanaan

a. Konsep “Acting”

Pembelajaran aktif (active learning) atau “Acting” diupayakan untuk mengarahkan siswa dalam penguasaan materi kimia; belajar mengaplikasikan, bekerja sama dalam team, belajar memecahkan masalah; belajar mandiri bertanggung jawab untuk mencapai tujuan, dan belajar memahami dan menghargai orang lain. 

“Silberman (2007) berpendapat bahwa belajar aktif adalah pembelajaran dimana siswa melakukan sebagian besar pekerjaan dengan menggunakan otaknya untuk mempelajari gagasan-gagasan, memecahkan berbagai masalah, dan menerapkan apa yang mereka pelajari. Pembelajaran efektif dan efisien, menyenangkan, menarik dan unik untuk dipelajari.” 

Karakteristik siswa yang beragam, gaya belajar yang berbeda-beda mengharuskan guru membuat pembelajaran menjadi mudah dan menarik dengan menggunakan konteks kehidupan nyata mereka. Sehingga mereka tidak lagi menganggap “Chemistry is difficult” but “Chemistry is easy.” 

b. Tujuan Pelaksanaan

Metode pembelajaran “Acting” secara spesifik dirancang untuk meningkatkan keaktifan belajar kimia siswa. Metode ini sangat efektif dan efisien diterapkan dalam pembelajaran dengan cara menyikapi gaya belajar (learning style) siswa yang berbeda-beda (ada siswa yang senang membaca, berdiskusi, dan praktik langsung), melatih siswa menumbuh kembangkan daya kreatifitasnya untuk menghubungkan informasi yang baru diterima dengan informasi yang telah dimiliki. Metode pembelajaran ini sangat menyenangkan karena pembelajaran tidak hanya dilakukan di dalam kelas atau laboratorium tetapi juga praktik lapangan, dimana siswa bereksplorasi belajar langsung pada nara sumber atau tenaga ahli sesuai dengan materi pokok yang dipelajari. 

c. Tahap Pelaksanaan

Pembelajaran aktif “Acting” merupakan suatu proses pembelajaran yang menantang siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir, yakni merangsang kerja otak secara maksimal. Kemampuan tersebut dapat ditumbuhkan dengan cara mengembangkan rasa ingin tahu siswa melalui kegiatan bereksperimen, berpikir secara intuitif atau bereksplorasi. 

Pembelajaran aktif “Acting” strategi pembelajaran yang paling baik adalah yang melibatkan siswa berlaku aktif dalam praktik. Sebab, dengan praktik, siswa telah memahami apa yang menjadi tujuan pembelajaran (Munthe, 2009). 

Beberapa metode, media, dan alat peraga yang telah saya lakukan dalam menerapkan pembelajaran “Acting” di kelas, adalah sebagai berikut:

1) Chil Book. Sebuah buku kecil yang berisi inti sari/ringkasan rumus-rumus kimia. Kegiatan ini dilakukan dengan merangkum catatan-catatan ceramah kelas sehingga dapat mendorong siswa memetakan catatan-catatannya. Dengan demikian, siswa merasa bertanggung jawab terhadap belajar mereka. 

2) Mind Map. Kegiatan ini merupakan salah satu cara belajar aktif siswa secara individual dan membantu meningkatkan daya ingat mereka dalam belajar. Kegiatan dilakukan dengan memberi penugasan pada siswa untuk setiap materi pokok/bab baru yang akan dipelajari. Siswa dapat belajar semakin efektif dan efisien, karena belajar berpikir reduktif, dengan merangkum informasi yang banyak ke dalam konsep-konsep utama yang saling berhubungan ke dalam sebuah diagram atau gambar yang mencakup keseluruhan konsep-konsep yang dipelajari. 

3) Menghafal. Kegiatan ini dilakukan untuk menanamkan materi verbal di dalam ingatan. Sebelum pembelajaran dimulai satu atau dua orang siswa harus maju ke depan kelas untuk menghafal yang bertujuan untuk melatih siswa berpikir sederhana, seperti mengingat dan menghafal golongan unsur yang terdapat dalam tabel periodik, misalnya golongan, nama unsur, nomor atom, massa atom yang sering digunakan dalam pelajaran kimia. 

4) Puisi, Lagu, dan Teka-Teki. Pembelajaran ini saya buat hanya sebagai selingan, menciptakan suasana yang tidak tegang dengan mengedepankan pentingnya mengembangkan otak sebelah kanan. Otak sebelah kanan adalah bagian yang berkaitan dengan imajinasi, estetika, intuisi, irama, musik, gambar, dan seni. Siswa diminta untuk membuat konsep kimia melalui puisi, nyanyian, maupun permainan teka-teki. 

5) Memanfaatkan Lingkungan Alam Sekitar. Disekitar sekolah banyak tumbuhan karamunting yang tumbuh liar dengan buahnya yang berwarna ungu. Ketika materi asam basa buah tersebut digunakan sebagai media pembelajaran. Buahnya yang berwarna ungu dimanfaatkan sebagai larutan indikator dan juga dapat dibuat kertas indikator, karena dalam suasana asam dan basa memiliki warna yang berbeda. Pembelajaran ini mengembangkan kepekaan terhadap fenomena yang terdapat disekitar, dengan memanfaatkan bahan alam yang ada sebagai media pembelajaran. Hal ini memberikan inspirasi untuk mereka bahwa lingkungan sekitar sebenarnya merupakan sarana untuk belajar dan untuk menunjukkan fenomena-fenomena kimiawi seperti yang tertulis dalam materi pelajaran kimia yang diajarkan di kelas. 

6) Study Lapangan. Pembelajaran ini untuk mengembangkan kemandirian siswa dimana mereka bereksplorasi belajar langsung pada narasumber atau tenaga ahli. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, kemudian mencari sendiri nara sumber atau tenaga ahli yang secara khusus sebagai penyepuh logam. Sekembalinya kesekolah masing-masing kelompok membuat pelaporan dan mempresentasikan pengalaman yang telah mereka dapatkan. (Materi Penyepuhan Logam)

7) Pembuatan Alat Peraga. Ditempat-tempat sulit guru dituntut kreativitasnya untuk menyajikan pembelajaran agar mudah dipahami oleh siswa. Karena di Laboratorium tidak tersedia pipa U saya menyiasatinya dengan membuat alat peraga. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok dan masing-masing kelompok bertanggung jawab untuk membuat alat peraga elektrolisis secara sederhana dari selang plastik minyak tanah dan sendal jepit dengan menggunakan elektroda karbon, kemudian mempraktikkannya dalam pembelajaran. (Alat Peraga Elektrolisis)

8) Charta. Kegiatan ini saya lakukan untuk menjelaskan bentuk geometri molekul. Awalnya siswa sulit memahami bentuk geometri molekul ada yang linier, segitiga datar, tetra hedral, oktahedral, dsb. Saya mencoba mengenalkan pada mereka dengan menggunakan kelereng, balon, plastisin, bola pingpong, dan styrofoam. Kemudian saya memberi penugasan kepada siswa secara klasikal untuk membuat charta, dan ternyata siswa sangat kreatif dapat membuat bentuk geometri molekul dari kepala bola bulu tangkis yang sudah tidak dipakai lagi. Dalam kegiatan pembelajaran siswa yang mempunyai kemampuan lebih menjelaskan kepada teman-temannya secara bergantian. (Materi Bentuk Geometri Molekul) 

9) Teka-teki Silang (crossword puzzle). Kegiatan ini saya lakukan dengan mendesain tes uji pada teka-teki silang yang mengundang keterlibatan dan partisipasi langsung. Siswa diminta untuk mencurahkan gagasan (brainstorming) beberapa istilah atau nama-nama kata kunci yang berkaitan dengan mata pelajaran kimia yang diajarkan, menyusun teka-teki silang sederhana yang mencakup item-item sebanyak yang mereka dapat. Teka-teki silang dapat dibuat dengan cara bermacam-macam antara lain dengan: Definisi pendek (“alat untuk mengukur jumlah kalor reaksi”); Kategori yang sesuai dengan item (“jenis reaksi”); Contoh (“cuka adalah contoh untuk asam”) atau Lawan kata (“lawan dari oksidasi”). Teka-teki tersebut ditukar secara acak, untuk dikoreksi oleh sesama temannya. 

10) Bermain Kartu. Kegiatan ini saya lakukan untuk melatih siswa dengan tingkat berpikir aplikatif dan performatif. Kartu aplikasi adalah kartu-kartu indeks yang dibuat oleh guru tentang satu kemungkinan sebagai aplikasi nyata (praktis) materi yang akan dipelajari siswa setelah mereka mempelajari prinsip-prinsip dasar, generalisasi, teori atau prosedur tertentu. Kegiatan dimulai dengan guru membuat soal dan jawaban yang ditulis pada kartu dengan warna yang berbeda. (sesuai dengan jumlah kelompok, setiap kelompok dengan materi yang berbeda, misal: haloalkana, alkohol, eter, aldehid, keton, asam karboksilat, ester). Catatan: kartu jawaban bisa dibuat lebih dari soal. Kartu-kartu tersebut dibagikan pada setiap kelompok. Masing-masing kelompok terlihat aktif mencari pasangan soal dan jawaban yang telah disediakan, kemudian mempresentasikan hasil kegiatannya. (Materi Senyawa Karbon Turunan Alkana). 

11) Belajar dari Teman (peer lessons). Kegiatan ini saya gunakan untuk menggairahkan kemauan siswa mengajarkan meteri kepada temannya. Jika selama ini ada pameo yang mengatakan bahwa metode belajar yang paling baik adalah dengan mengajarkan kepada orang lain, maka strategi ini akan sangat membantu siswa di dalam mengajarkan materi kepada teman-teman sekelas. Kegiatan dimulai dengan membagi siswa menjadi 4 kelompok sesuai dengan jumlah sub materi yang akan dibahas. Setiap kelompok diberi tugas untuk membuat makalah, LKPD, menyiapkan alat bahan, untuk dipresentasikan. Dari kegiatan ini siswa menunjukkan kerjasama dalam team, berdiskusi dan menyiapkan alat bahan secara bersama-sama, dalam kegiatan kelompok mereka terlihat kompak demikian juga dalam menjawab pertanyaan dari teman-temannya saling mengisi dan melengkapi. (Materi Koloid)

12) Metrix Ingatan. Kegiatan ini saya lakukan untuk melatih siswa dengan tingkat berpikir ingatan, pemahaman dan pengetahuan awal. Strategi ini berbentuk metrix yang terdiri dari baris-baris dan kolom-kolom kosong atau satu kolom yang telah diisi. Strategi ini dapat mengevaluasi kekuatan daya ingat akan meteri pelajaran yang penting dan hubungan antar materi serta menilai kecakapan siswa mengorganisasi informasi ke dalam kategori-kategori tertentu. Kegiatan saya mulai dengan membuat satu metrix kosong yang terdiri dari kolom-kolom dan baris-baris. Siswa mengisi ruang yang kosong dengan fakta atau konsep yang berhubungan dengan materi yang diajarkan. Setelah selesai diisi, dikumpulkan, dan kemudian dibahas bersama. 

13) Turnamen Belajar (Learning Tournament). Teknik ini merupakan suatu bentuk yang disederhanakan dari “Teams Games Tournaments” yang dikembangkan oleh Robert Slavin dan kawannya. Teknik ini juga menggabungkan satu kelompok belajar dan kompetisi tim, dan dapat digunakan untuk mengembangkan pelajaran atas macam-macam fakta, konsep, dan keahlian yang luas. Kegiatan ini dilakukan, dimana siswa dibagi dalam tim yang terdiri dari 5 – 6 orang anggota. Guru membuat pertanyaan dengan jawaban singkat yang tujuannya untuk mengingat kembali materi pelajaran yang telah dipelajari. Kegiatan ini sangat efektif untuk melatih siswa belajar berkompetisi baik di dalam kelas maupun di luar kelas. 

14) Belajar Terus (Keep On Learning). Kegiatan ini saya lakukan pada siswa dengan tujuan mencari cara-cara yang tepat untuk melanjutkan kegiatan belajar yang sesuai cara mereka, tentang pelajaran yang telah diajarkan. Saya menunjukkan harapan saya pada siswa bahwa proses belajar mereka tidak akan berhenti begitu saja karena materi pelajaran telah selesai. Pada kegiatan ini saya memberi penugasan pada setiap individu mengembangkan ide-ide mereka untuk lebih luas lagi dengan mencari artikel yang berhubungan dengan mata pelajaran kimia dari berbagai sumber (buku, koran, majalah, internet, dll). 

d. Hambatan dan Solusi

Saya mengajar di kelas XI IPA1,2 dan XII IPA dengan jumlah siswa satu kelas rata-rata 30 siswa. Tidak semua siswa yang saya bimbing memiliki minat/keaktifan dalam pembelajaran kimia. Ada sebanyak 40% siswa yang keaktifannya masih kurang. Namun setelah saya menerapkan pembelajaran dengan metode Acting, keaktifan siswa rata-rata meningkat yang awalnya sekitar 62,9% menjadi 82,6%. 

e. Indikator Keberhasilan

Pada pelaksanaan pembelajaran dengan metode Acting, hampir 85% siswa telah menunjukkan keaktifannya. Keberhasilan itu memberikan dampak pada keaktifan masing-masing individu dalam kelompoknya. Hal tersebut terlihat dari kegiatan mereka dalam melaksanakan tugas yang diberikan oleh kelompok; kemauan untuk bertanya atas permasalahan yang belum diketahui; kepedulian terhadap kesulitan sesama kelompok; ikut serta dalam menjawab permasalahan; dan memberikan ide atau pendapat. Untuk memperjelas indikator keberhasilan pelaksanaan metode Acting, saya mengambil satu sample nilai keaktifan siswa kelas XI IPA pada materi Koloid dengan Belajar dari Teman (Peer Lesson). 

f. Program Pengembangan

Penerapan metode Acting sangat sesuai untuk pelajaran kimia, karena metode ini mengarahkan siswa pada penguasaan yang dalam dan luas akan materi kimia, melatih siswa untuk mengaplikasikan dengan memulai dari cara belajar yang sederhana untuk meningkatkan kreativitas dan cara berpikir mereka dalam memecahkan masalah. Metode pembelajaran Acting memicu siswa bereksplorasi dalam kehidupan dunia nyata mereka, dengan belajar mencoba bereksperimen di Laboratorium atau studi di lapangan. 

Metode pembelajaran Acting dapat dikembangkan untuk yang lebih luas lagi dalam bentuk yang bervariasi dan berkelanjutan. Program diseminasi telah dilaksanakan pada rapat guru melalui sharing para guru atau diskusi bagaimana menyikapi penyampaian materi yang dianggap sulit. 

IV. Simpulan dan Rekombinasi 

1. Simpulan

a. Penerapan metode Acting membuat siswa menjadi tertarik pada pelajaran kimia.

b. Metode Acting dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran. 

c. Siswa menjadi lebih kreatif dalam belajar kimia. 

2. Rekomendasi

a. Seluruh guru dapat mempelajari dan menggunakan metode Acting agar pembelajaran menjadi tertarik untuk siswa. 

b. Rancangan Pembelajaran dapat dilakukan dengan menggunakan metode Acting agar lebih meningkatkan keaktifan siswa.

c. Metode Acting dapat digunakan untuk mata pelajaran lain, selain mata pelajaran kimia terutama untuk mata pelajaran yang dianggap sulit. Sumber: http://penelitiantindakankelas.blogspot.com)